2018, Sektor Properti Pacu Pertumbuhan Ekonomi

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Memasuki Triwulan IV 2017, pasar properti terus menggeliat, bahkan berdasarkan data dari Bank Indonesia, pada triwulan IV 2017, pertumbuhan ekonomi Sulsel diperkirakan meningkat, dikarenakan konsumsi pemerintah yang membaik serta membaiknya perdagangan luar negeri dan antar daerah.

Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan diperkirakan dari usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Pengadaan Listrik dan Gas, Konstruksi, Perdagangan Besar dan Eceran, Transportasi dan Pergudangan, Informasi dan Komunikasi, Jasa Keuangan dan Asuransi, Real Estate, serta Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial.

Advertisment

“Data dari Bank Indonesia menyebutkan bahwa salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi di Sulsel adalah dari sektor real estate. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya daya beli masyarakat akan sektor properti, khususnya residensial, tercatat pada launching perdana Cluster terbaru PT GMTD Tbk, yang merilis 3 piihan cluster terbarunya, yakni Vinca, Castanea dan Marigold  dan dibanderol dengan harga jual 330 juta hingga 800 jutaan mendapat respon positif. Bahkan pada launching yang digelar 18 November 2017 kemarin itu membukukan penjualan hingga kurang lebih 300 an unit,” ungkap A Eka Firman Ermawan, Associate Director PT GMTD Tbk, Rabu 3 Januari 2018.

Selain itu, lanjut Eka, secara keseluruhan tahun 2017, Bank Indonesia memperkirakan konsumsi Rumah Tangga tetap kuat sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Pertumbuhan konsumsi RT kumulatif hingga triwulan III 2017 adalah sebesar 6,06% (yoy) atau lebih tinggi dari konsumsi RT tahun 2016 yang tumbuh sebesar 5,48% (yoy). Lebih tingginya konsumsi RT ini sejalan dengan kenaikan pendapatan perkapita masyarakat Sulawesi Selatan yang menciptakan kelas menengah baru sehingga mendorong investasi swasta khususnya pada bidang usaha ritel dan kuliner. Kesemuanya itu tentunya mendongkrak pertumbuhan sektor properti.

“Bahkan dari sekitar 300 unit yang terjual kemarin sekitar 80% itu dari keluarga muda atau pengusaha muda. Data ini sejalan dengan terciptanya kelas menengah baru yang juga mendongkrak sektor properti di Tanjung Bunga. Selain itu, masyarakat sekarang sudah lebih cerdas dalam memilih instrument investasi seperti dalam memilih unit rumah yang sudah didasarkan karena nilai investasinya yang terus naik, lokasi yang strategis, fasilitas yang tersedia serta akses yang mudah”, katanya.

Menurut Eka sapaan akrab A Eka Firman Ermawan, Kawasan Tanjung Bunga saat ini merupakan satu-satunya kawasan di tengah Kota Makassar yang memiliki semuanya, mulai dari nilai investasi, fasilitas terlengkap (Rumah Sakit, mall, hotel, pariwisata, sarana ibadah, pantai, danau, sekolah internasional, kampus dll), kemudahan akses kemana-mana, serta kualitas bangunan yang terjamin.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, dalam diskusi Outlook Ekonomi 2018 beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Provinsi Sulawesi Selatan mendapat penghargaan dengan investasi tertinggi di Asia, dimana Sulsel mendapat 8 kali berturut-turut sebagai pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata nasional.

Khusus untuk kawasan Tanjung Bunga, hingga akhir 2017 ini pertumbuhan ekonomi di Tanjung Bunga terus tumbuh secara positif, tercatat dari sisi fasilitas sudah terdapat TSM dengan tingkat kunjungan yang terus meningkat, ditambah kehadiran PIPO Mall, Cinemax, Food Mart, Max Coffee yang mampu menyedot perhatian masyarakat dengan ragam event berskala nasional yang di gelar di pelataran parkirnya.

Belum lagi event-event yang hampir terisi setiap bulannya di Celebes Convention Center, kawasan pariwisata Pantai Akkarena terus di benahi ditambah mobilitas pengguna jalan Metro Tanjung Bunga juga terus meningkat bahkan mencapai 15.000 an kendaraan per hari.

“Saya rasa, Tanjung Bunga ini sudah menjadi Pintu Gerbang Sulsel bagian selatan, karena akses masyarakat kini lebih memilih lewat jalan metro untuk bisa sampai kekota saat ini. Belum lagi jumlah warga Tanjung Bunga yang terus tumbuh, dimana jumlah warga mencapai 7000 kk”, ungkapnya.

Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan III 2017 menurun 4,17% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang mencapai 4,49% (yoy), sebagai implikasi pasokan bahan makanan yang tersedia dan daya beli yang terjaga. Pada triwulan IV 2017 tekanan inflasi diperkirakan masih dalam tren menurun, karena aktivitas masyarakat dan kondisi pasokan yang terjaga saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan tahun baru.

Sejalan dengan itu, untuk kondisi stabilitas keuangan daerah dan sistem pembayaran juga tetap terjaga dan dapat mendukung aktivitas ekonomi. Dengan kondisi tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel dan inflasi 2017 diprakirakan tetap dalam kisaran proyeksi positif Bank Indonesia.(**)