Bulog Lepas 100 Ton Beras Saat Operasi Pasar

Ilustrasi (foto:ist)

Ilustrasi (foto:ist)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulselbar menggelar operasi pasar untuk mengantisipasi lonjakan harga beras. Tahap awal, BUMN di bidang pangan itu melepas 100 ton beras ke sejumlah pasar tradisional baru-baru ini.

Pelepasan operasi pasar itu dipimpin oleh perwakilan dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) yakni Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kasan.

Advertisment

Kasan mengatakan operasi pasar dilakukan untuk mengantisipasi sekaligus penetrasi harga beras yang sempat melonjak. Operasi pasar akan berlangsung mulai 8 Januari hingga 31 Maret mendatang. Beras yang dijual selama operasi pasar merupakan jenis medium. Harganya dibanderol di bawah Harga Eceran Tertinggi.

Khusus di Sulsel, Kasan menyebut harga beras terbilang stabil mengingat daerah ini merupakan produsen. Tapi, pihaknya tetap melakukan operasi pasar sebagai bentuk antisipasi terjadi gejolak harga.

Nah, harga beras di Sulsel selama operasi pasar dijual di bawah HET. Bila HET beras dibanderol Rp9.450 per kilogram untuk wilayah Sulawesi, pihaknya memasarkan hanya dengan harga Rp9.000 per kilogram.

“Operasi pasar yang dilakukan kali ini juga berbeda dibandingkan sebelumnya, kami ingin memastikan bahwa beras itu benar-benar sampai ke pedagang eceran. Lalu, harganya pun di bawah HET, dimana ada gap sekitar Rp450,” kata Kasan, usai melepas sejumlah truk pengangkut beras di Gudang Bulog Sulselbar.

Kepala Divisi Perum Bulog Sulselbar, Dindin Syamsuddin, menambahkan pada dasarnya stok dan harga beras di wilayahnya terbilang aman, meski di daerah lain terjadi gejolak. Itu karena Sulsel merupakan daerah produsen beras.

Bukan hanya memasok provinsi di Indonesia, tapi juga sejumlah negara tetangga. “Ya tapi tetap operasi pasar sebagai bentuk antisipasi,” tuturnya.

Dindin mengungkapkan tidak mematok target jumlah pasokan beras dalam operasi pasar yang berlangsung tiga bulan. Intinya, sambung dia, berapapun kebutuhan masyarakat akan dipenuhinya. Lagi pula, Sulsel selalu mengalami surplus dan malah mengirim beras ke provinsi lain di seluruh Indonesia.

“Jadi intinya, berapapun kebutuhan kami siap pasok, asal memang benar-benar kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.

Secara Terpisah, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengaku heran jika terjadi kenaikan harga beras di Sulsel. Sebab selama ini stok beras yang ada cukup sampai 6 bulan kedepan.

“Saya juga heran kenapa bisa naik. Kenapa bisa begitu, itu tnda tanya bagi saya? Saya sudah panggil Kapolda untuk sama-sama mencari penyebabnya dan beras tak boleh hilang,” pungkasnya. (**)