Sumber Daya Lokal Berharga Milyaran di “Panggung” Femme & CBFW 2018

Sumber Daya Lokal Berharga Milyaran di "Panggung" Femme & CBFW 2018.

Sumber Daya Lokal Berharga Milyaran di "Panggung" Femme & CBFW 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Negeri ini memang kaya. itu bukan hanya pernyataan bernada kiasan atau berpikir yang dimaksud itu adalah tambang emas atau batu bara.

Sebab, semua yang terkandung di negeri ini tak pernah habis-habisnya dikeruk dan bisa bernilai milyaran rupiah dalam sepekan saja.

Advertisment

Tidak percaya dan menggagap itu klise? mari tengok sebuah pagelaran fesyen terbesar di area Indonesia timur, The International Woman’s Exhibition (FEMME) dan Celebes Beauty Fashion Week (CBFW) yang dihelat pada 11 hingga 15 Maret di Four Points by Sheraton Makassar.

Gelaran Femme & CBFW 2018 diserbu pengunjung.

Dunia fesyen adalah salah satu sub sektor industri kreatif yang bernilai mahal, bayangkan saja bila sebuah hasil rancangan bisa dibandrol puluhan juta apalagi bila karya desain pakaian tersebut termasuk stok terbatas (limitid edition), wah bisa lebih selangit lagi harganya.

Lebih menakjubkan lagi, nilai mahal itu justru didongkrak oleh tema karya dan bahan yang banyak memakai kekayaan lokal. Seperti tema Femme yang sudah memasuki tahun ke 13 perhelatannya, yang mengangkat bunga, kekayaan Malino sebagai kota bunga khususnya bunga Krisan diangkat dan diolah oleh 50 desainer ternama yang terlibat di kegiatan ini menjadi sebuah karya rancangan baju. Rancangan yang ditampilkan 100 model baik lokal dan nasional dalam 50 kali fashion show yang dirunning di atas catwalk selama lima hari itu di panggung utama.

Salah satu stan jewelery yang berada di area pagelaran Femme & CBFW 2018 di Four Point By Sheraton Makassar. (Foto:djournalist.com)

Salah satu stan jewelery yang berada di area pagelaran Femme & CBFW 2018 di Four Point By Sheraton Makassar. (Foto:djournalist.com)

Keinginan untuk memaksimalkan apa yang dipunyai negeri ini selaras dengan keinginan pemerintah pusat, Istri Menteri Koperasi dan UKM RI Agung Gede Ngurah Puspayoga, I Gusti Ayu Bintang yang membuka secara resmi kegiatan yang telah menjadi kalender event tahunan pariwisata nasional ini bisa memotivasi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengeksplorasi sumber daya lokal yang ada. Baik sebagai gagasan penciptaan motif, inspirasi karya maupun penggunaan bahan dari sumber daya alam lokal.

” Tentu dengan adanya event-event seperti ini bisa mendorong hasil produk-produk UMKM menjadi lebih bernilai jual dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,”ujar I Gusti Ayu Bintang disela-sela membuka secara resmi FEMME dan CBFW didampingi legislator senayan dari Sulsel, Aliyah Mustika ilham yang juga dewan pembina FEMME dan CBFW, Rabu 11 April 2018.

Pameran yang diorginizer 3Pro dan menjadikan Dekranasda Gowa sebagai tuan rumah ini memang melibatkan beberapa pelaku UMKM. Tercatat 350 brand, 25 brand artis, dan 30 booth kuliner terlibat. Pola berpameran tentu berdampak besar bagi pelaku industri kreatif ini. I Gusti Ayu Bintang menilai, meski di tengah era digital pemasaran online semakin menjamur, tak bisa dipungkiri pemasaran secara offline seperti pameran produk masih tetap dibutuhkan.

” Selain akses permodalan, akses pemasaran masih menjadi permasalahan utama produk UMKM kita, karenanya Femme menjadi wadah menfasilitasi mereka memasarkan produk meskipun semakin menjamur tehnik pemasaran online,”ujarnya.

Karenanya, ia pun menghimbau, Femme tak hanya dijadikan media promosi produk saja, tetapi sebagai media inspiratif dan edukasi yang terus membawa manfaat untuk masyarakat khususnya bagi kemajuan para pengrajin dan seluruh desainer di indonesia, ” sehingga nantinya bisa menjadi cikal bakal mewujudkan Indonesia sebagai pusat mode indonesia,” harapnya.

HASILKAN LEBIH 38 MILIAR dan POLA PEMBAYARAN NON TUNAI 

Hasil dari kekayaan lokal dalam event ini benar-benar ternyata cukup mencengangkan. Terbukti dari antusiasme pengunjung begitu besar, itu terlihat dari total transaksi yang ada hingga hari keempat menembus angka Rp38,4 miliar dengan rincian hari pertama Rp 8 miliar, hari kedua Rp 8,5 miliai,  hari ketiga Rp 10,5 miliar dan hari keempat kemarin membukukan 11,4 miliar.

Sementara pengunjung sampe hari keempat sendiri totalnya 45.650 orang. Adapun rincian dari hari pertama hingga hari keempat masing-masing hari pertama dan kedua 21.600 pengunjung, hari ketiga pengunjung 11.325 orang dan hari keempat 12.725.

Menjelang penutupan hari ini Minggu 15 April 2018 menjadi puncak transaksi sekaligus puncak kemeriahaan.

Stan Pasar Tuban

Chairwomen FEMME, Icha AZ Lili mengatakan, hari ini memasuki hari terakhir penyelenggaraan. Icha memprediksi terjadi peningkatan jumlah pengunjung hari terakhir ini.

“Inilah saatnya untuk datang ke gelaran FEMME dan CBFW. Di sini banyak produk baru dan mendapatkan diskon besar besaran dari para exebitor”, jelasnya.

Hal menarik terlihat dari pola transaski penjualan yang berlangsung di arena pameran. Kegiatan ini memperlihatkan kampanye gerakan non tunai. Pantauan selama FEMME dan CBFW 2018 berlangsung di lokasi pameran, seluruh peserta pameran menggunakan aplikasi smartphone dengan nama yap! (Your All Payment) sebagai alat pembayaran untuk transaksi non-tunai (cashless) dan tanpa menunjukkan kartu debit/kredit nya (cardless).

Rupanya transaksi ini ditunjang kemudahan dan benefit dalam bertranskasi dari para sponsor, yang menjadi daya tarik pengunjung.

Kemudahan dan benefit dalam bertranskasi dari para sponsor, yang menjadi daya tarik pengunjung.

Vice President of Consumer BNI Wilayah Makassar, Hadi Santoso, menuturkan, dalam pergelaran FEMME kali ini pihaknya menyuguhkan berbagai benefit untuk pengunjung.

Seperti pemegang kartu kredit BNI ada suguhan cicilan 0 persen, cicilan 0,8 persen, free voucer belanja Rp100 ribu, dan hemat belanja hingga 50 persen menggunakan BNI reward poin. Selain itu, ada free voucer belanja Rp100 ribu untuk BNI kartu debit juga free gimmick senilai Rp15 ribu untuk transaksi Yap! dengan perbelanjaan tertentu.

“Lebih mempopulerkan pembayaran Yap! tanpa harus membawa uang tunai, kartu debit atau kartu kredit,” ucapnya saat sempat ditemui, Jumat 13 April 2018 lalu.

Sementara dari benefit lain seperti Telkomsel juga tidak ketinggalan menyuguhkan berbagai kemudahan registrasi kartu dan program T-Cash yang memungkinkan pengunjung menjajaki tenant kuliner hanya Rp1 saja yang berlaku setiap hari dengan periode tertentu.

“Kami tidak ingin ketinggalan untuk memanjakan para pelanggan kami di ajang ini,” ujar SPV Marketing Communication, Ondo Harinduan Putra.

Memang, selain urusan berburu mode terbaru dan look pakaian diatas catwalk, ajang FEMME ini juga menyediakan spot untuk mengisi lambung. Ada 30 stand kuliner, di area food courn inilah, para peserta dan pengunjung bisa berkuliner ria dan bersantai usai berburu fashion. Beberapa kuliner Makassar bisa dicicipi di area food court seperti coto Makassar, Bassang, Pisang Ijo, Bakso, Jalangkote, aneka kue khas Makassar dan Bugis, Pallubasa, dadar, Konro, dan berbagai jenis kuliner lainnya.

Area stan kuliner di Femme&CBFW 2018 di Hotel Four Points Makassar. (Foto:djournalist.com)

Area stan kuliner di Femme&CBFW 2018 di Hotel Four Points Makassar. (Foto:djournalist.com)

Selain kuliner khas Makassar, pengunjung juga mencicipi menu lain sepert Lontong Sayur, Gado Gado, Nasi Bakar Palekko, Bebek Ayam, Nasi Bakar, Paru rica, Nasi Paru rica, aneka kripik singkong, peyet, kue ijo Makassar, Somay, Kios atiraja, Mie kering, asu lawar sali, lawa udang, otak otak bakso, salt in, slad dan berbagai jenis makanan dan minuman lainnya.

BUNGA KRISAN, TENUN IKAT HINGGA KEINDAHAN SALJU

Dipilih menjadi tuan rumah bersama 3Pro dalam perhelatan bergengsi FEMME, membuat Dekranasda kabupaten Gowa tidak menyianyiakannya, Ketua Dekranasda Gowa, yang juga adalah istri bupati termuda di Indonesia Timur, Adnan Purichta Ichsan, yakni Priska Adnan, berharap bisa mengangkat kekayaan alam dan budaya di kabupaten Malino, salah satunya Malino yang dikenal sebagai kota bunga. Untuk itu di ajang FEMME, dekransda mengangkat tema bunga,
“Apalagi Malino dikenal sebagai penghasil bunga krisan terbaik di Indonesia,” ujar Priska.

Mengekplorasi lebih jauh kekayaan lokal ini, panitia pun juga membuat lomba Puteri Bunga. Seksi acara pemilihan Puteri Bunga, Anna Taufiq mengatakan lomba putri bunga ini bertujuan untuk memacu kreatifitas sekaligus memperkenalkan budaya dan berbagai potensi yang dimiliki Kabupaten Gowa. Salah satunya Malino sebagai Kota Bunga di FEMME.

Pemilihan Putri Bunga

“Sejak tahun lalu Gowa telah mencanangkan event Beautiful Malino untuk meningkatkan daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan masuk ke dalam kalender even wisata nasional”, ujarnya.

Dikatakan Ana pada kompetisi pemilihan Puteri Bunga ini diikuti sebanyak 21 orang peserta yang berasal dari kecamatan se Kabupaten Gowa, instansi dan organisasi lingkup pemerintah kabupaten Gowa. Para peserta menampilkan modifikasi desain busana dengan menggunakan hiasan bunga-bunga.

Setelah dilakukan pengumuman oleh keempat dewan juri yang didapuk menilai jalannya perlombaan ini maka yang berhasil keluar sebagai pemenang adalah Juara 1 diraih RSUD Syekh Yusuf, Juara 2 BRI Kanca Sungguminasa, Juara 3 Kecamatan Bajeng, Juara Harapan 1 Kecamatan Tompobulu dan Juara Favorit Kecamatan Barombong.

Khasanah lokalitas itu juga tercium kuat dari karya-karya para desainer handal negeri ini, sebut saja desainer ternama Didiek Budiardjo tampil dengan 37 koleksi busananya berangkat dari peradaban Makassar tempo doloe salah satunya adalah fort city Makassar.

Selain itu ada kolaborasi Krisdayanti dengan Desainer Viena Mutia juga tak kalah menariknya. Diva Indonesia Krisdayanti alias KD turut meramaikan dengan berkolaborasi dengan desainer ternama Viene Mutia dalam label VM by Viena I KD. Keduanya mengungkapkan keindahan salju ke karya rancangan mereka dengan tema “Deep Ice”.

Tema ini direpresentasikan oleh sang creative director Viena Mutia dalam balutan rancangan gaun berwarna silver, grey, dan broken white dengan sentuhan detail berupa taburan payet berbentuk tetesan ice, untuk memberikan kesan cool, calm dan fancy.

Kolaborasi Krisdayanti dengan Desainer Viena Mutia.

Membawa spirit keberagaman sesuai dengan tema utama kegiatan FEMME kali ini, desainer senior Itang Yunasz juga turut menampilkan koleksi-koleksi Tribalux nya, yang berangkat dari kekayaan lokalitas Sumba.

Itang Yunasz menampilkan 16 koleksi busananya yang menggunakan material sutera dan pada beberapa style juga dikombinasikan wastra nusantara.

“Memintal benang, mengikat, mewarnai dan menenunnya adalah sebuah tradiSi warisan budaya Nusa Tenggara Timur yang menghasilkan motif ikat yang penuh pesona,” ujar trendetter fashion hijab ini.

16 look tampil elegan dan cantik dalam berbagai potongan blus, tunik, gaun, celana, legging, kulot, kaftan, dan outer. Setiap helainya dapat saling dipadupadankan dengan berlapis. Tak sekadar terlihat cantik, hadirnya sentuhan taburan beads dalam pilihan warna serasi makin mengentalkan napas mewah pada koleksi ini.

senior Itang Yunasz juga turut menampilkan koleksi-koleksi Tribalux nya, yang berangkat dari kekayaan lokalitas Sumba.

Koleksi Tribalux ini menggunakan material tenun ikat NTT dan helai kain chiffon, crepe, dan satin sutera yang diprint dengan desain bermotif ikat NTT. Kesan anggun tercipta lewat pilihan warna indigo dan cokelat kopi serta maroon yang membuatnya hidup.

Tidak sekedar membawa rancanganngannya ke FEMME,  Itang Yunasz juga memberikan pandangan positifnya pagelaran FEMME yang dianggapnya memiliki peran penting dalam kemajuan industri fashion Indonesia.

” Kehadiran acara yang fokus pada fashion Indonesia dan konsisten sejak 13 tahun lalu ini membuktikan bahwa industri fashion tidak hanya berkembang di Jakarta, tetapi juga di daerah,” ujar Itang Yunasz.

KEMERIAHAN YANG TAK RELA BERAKHIR

Sepertinya kemeriahan FEMME 2018 and CBFW selama lima hari itu terasa begitu singkat, sebab selain fashion show sejumlah kegiatan lain juga digelar seperti pemilihan putri bunga, pemilihan kebaya kartini, tutorial make up &hijab By Iwapi, seminar LTPRO, dan pemilihan model cilik. Beberapa peserta pameran sendiri mengaku puas dengan pergelaran Ini.

Owner Menor Hijab Boutique, Indry Annantah mengaku, senang bisa menjadi bagian dari penyelenggaraan event mode tersebut. Menurut Indry awalnya cuma mendengar cerita dari temannya kalau even FEMME dan CBFW itu sangat ramai dan potensial untuk berpromosi dan jualan produk.

“Walau baru kali ini ikutan FEMME, Alhamdulillah produk dari Menor Hijab Boutique laris manis diserbu pengunjung. Walau cuma berjualan berupa jilbab saja tetapi jualan tiap hari diserbu pengunjung”, jawabnya.

Selain Indry, salah seorang desainer busana muslim kenamaan tanah air, Rya Baraba mengatakan sudah lama berpartisipasi acara FEMME. FEMME dan CBFW adalah acara yang selalu dinanti nantikan oleh masyarakat tak terkecuali para desainer kondang.

“Sejak dulu selalu ikut, hanya absent tahun lalu saja. brand Rya Baraba bisa besar di Sulawesi khususnya Makassar karena gelaran FEMME. Even ini yang membuat saya bisa punya banyak customer baru hingga sekarang, bahkan sudah seperti keluarga sendiri,”aku perancang busana muslim ini.

Chairwomen FEMME, Icha AZ Lili pun berterima kasih dan bersyukur atas kemeriahan ini walaupun rasanya berat untuk diakhiri.

Chairwomen FEMME, Icha AZ Lili pun berterima kasih dan bersyukur atas kemeriahan ini walaupun rasanya berat untuk diakhiri. Namun ia pun akan menjanjikan kemriahan yang lebih di tahun mendatang.

“Tahun depan mudah-mudahan penyelenggaraan FEMME jauh lebih bagus dan meriah dari sebelumnya”, tutup Icha.(*)