Industri Perbankan Syariah Tumbuh Lebih Tinggi dari Konvensional

JOURNALIST UPDATE Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua Selasa, 10 Juli 2018.

JOURNALIST UPDATE Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua Selasa, 10 Juli 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Industri perbankan syariah kembali tumbuh lebih tinggi dari konvensional.

Dimana aset perbankan syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan 7,40% (yoy) dengan nominal Rp7,29 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan aset perbankan konvensional 0,01% (yoy) dengan nominal Rp128,93 triliun.

Advertisment

Selain itu, DPK perbankan syariah bahkan mencatat pertumbuhan double digit 12,40% (yoy) dengan nominal Rp4,49 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK perbankan konvensional 3,26% (yoy) dengan nominal Rp84,64 triliun.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua Selasa menyebutkan, berdasarkan kegiatan bank, aset perbankan konvensional mencapai Rp128,93 triliun dan aset perbankan syariah Rp7,29 triliun.

” Kinerja intermediasi perbankan Sulsel
terjaga pada level yang tinggi dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang meningkat menjadi 130,29% dan tingkat risiko kredit bermasalah berada di level aman 4,48%,”ujar Zulmi disela-sela JOURNALIST UPDATE Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua Selasa, 10 Juli 2018.

Sementara itu, aset BPR tumbuh 11,30% (yoy) menjadi Rp2,51 triliun. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan aset bank umum 0,38% dengan nominal mencapai Rp133,72 triliun.

Di sisi penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 7,79% (yoy) menjadi Rp117,07 triliun, terdiri dari kredit modal kerja Rp44,34 triliun, kredit investasi Rp20,88 triliun, dan kredit konsumsi Rp51,85 triliun.

Berdasarkan sektor lapangan usaha, pertumbuhan kredit tertinggi ke sektor pertanian tumbuh 36,71% (yoy), sektor perikanan 34,66% (yoy) dan sektor  perantara keuangan 28,45% (yoy).

” Adapun pada sektor bukan lapangan usaha, kredit untuk pemilikan rumah tinggal dan kredit lainnya tumbuh tinggi masing-masing 14,39% (yoy) dan 17,02% (yoy). Adapun penghimpunan DPK tumbuh lebih rendah 3,68% dengan nominal Rp89,13 triliun, terdiri dari giro Rp13,95 triliun, tabungan Rp46,78 triliun, dan
deposito Rp28,40 triliun,”tambah Zulmi.

Untuk NPL perbankan masih di level yang aman
NPL perbankan Sulsel tetap terjaga di level aman 4,48%. Secara rinci, NPL bank umum berada di posisi 4,51%, sedangkan NPL BPR berada pada posisi lebih rendah 2,70%.(**)