Transaksi Saham di Sulsel Tembus Rp6,37 Triliun

(Kiri-kanan) Dani S Sinaga Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK, Tan Widy Tarmizi Kacab BCA Ahmad Yani Makassar, Zulmi Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Benzani Kanwil Pegadaian, Fahmin Amirullah Kepala BEI Makassar.

(Kiri-kanan) Dani S Sinaga Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK, Tan Widy Tarmizi Kacab BCA Ahmad Yani Makassar, Zulmi Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Benzani Kanwil Pegadaian, Fahmin Amirullah Kepala BEI Makassar.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua) mencatat pertumbuhan industri pasar modal di Sulawesi Selatan tumbuh signifikan di tahun 2018.

Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Zulmi menyebutkan, jumlah investor pasar modal di Sulsel menembus 21.679 investor, tumbuh signifikan 47,89 (year on year).

Advertisment

Dikatakan Zulmi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada instrumen reksadana tumbuh 80,07 % dengan jumlah investor 8.728 investor.

Sementara pada instrumen saham tumbuh sebesar 33,16% dengan jumlah investor 10.658 investor.

” Sisanya pada surat berharga negara (SBN) mencapai 2.293 investor atau tumbuh sebesar 26,83 year on year. Adapun nilai transaksi saham di Sulsel hingga Juni 2018 mencapai Rp6,37 Triliun,”kata Zulmi ditemui di sela-sela Journalist Update OJK di Cafe The Boss Jalan Bonto Lempangan, Jumat 3 Agustus.

Zulmi menilai pertumbuhan pasar modal di Sulsel saat ini sangat tinggi dengan adanya regulasi-regulasi dan kemudahan yang diberikan ke masyarakat untuk berinvestasi.

” Sekarang transaksi saham lebih mudah, anak sekolah pun sudah bisa transaksi, itu karena nilai transaksinya selalu dimudahkan, dulu kalau investor mau transaksi saham paling sedikit satu lot adalah 500 saham. Tapi sekarang itu sudah diturunkan menjadi 100 lembar saham, bahkan saat ini para investor bisa melakukan investasi di reksadana dengan nilai minimum. Artinya, masyarakat bisa berinvestasi dengan hanya Rp10 ribu,”kata Zulmi.

Sementara itu, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulsel menambahkan, masyarakat semakin melek berinvestasi dengan adanya kemudahan-kemudahan berinvestasi.

“Sekarang tidak ada lagi anggapan jika berinvestasi di pasar modal itu harus biaya besar. Buktinya sudah banyak anak-anak mahasiswa menjadi investor, karena saat ini kita terus mengedukasi mereka untuk investasi melalui program galeri investasi yang kita canangkan, ” ucapnya.

Saat ini lanjutnya, di wilayah BEI Sulsel sudah dibuka 12 gerai investasi. Pihaknya pun semakin gencar menjangkau investor di daerah terpencil dengan didirikannya skema perusahaan efek daerah.

” Kemudahan yang dilakukan otoritas saat ini adalah akan didirikannya perusahaan efek daerah, semoga bisa selesai tahun ini. Ini upaya kita untuk menjangkau investor-investor di daerah,”tutup Fahmi. (**)