Daging Ayam Ras, Tarif Pulsa dan Cabai Rawit Picu Inflasi

Dwityapoetra S Besar Direktur BI Sulsel didampingi Amanlison Sembiring (Kepala Grup SPPUR dan SLA KPw BI Sulsel Siaran Pers BI di Lantai 2 Kantor BI Jalan Sudirman, Rabu 8 Agustus 2018.

Dwityapoetra S Besar Direktur BI Sulsel didampingi Amanlison Sembiring (Kepala Grup SPPUR dan SLA KPw BI Sulsel Siaran Pers BI di Lantai 2 Kantor BI Jalan Sudirman, Rabu 8 Agustus 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Daging Ayam Ras, Tarif pulsa dan Cabai rawit menjadi komoditi yang paling besar penyumbang inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan.

Masing-masing komoditas ini menyumbang inflasi sebesar 0,18% (mtm) untuk daging ayam ras, tarif pulsa ponsel sebesar 0,15% dan cabai rawit 0,08%. Menyusul komoditi tomat buah 0,08% dan tomat sayur 0,07%.

Advertisment

Meski begitu, inflasi Sulsel Juli 2018 tetap terkendali bahkan terendah dalam lima tahun terakhir sebesar 0,56% (mtm) lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,94%.

” Pencapaian ini bahkan lebih rendah dari pada rata-rata bulan Juli dalam lima tahun terakhir 0,98%,”kata Dwityapoetra S Besar Direktur BI Sulsel dalam Siaran Pers BI di Lantai 2 Kantor BI Jalan Sudirman, Rabu 8 Agustus 2018.

Menurut Dwityapoetra, hal ini disebabkan relatif terkendalinya komoditas bandeng, bawang merah, kangkung, cakalang, layang, kacang panjang, ikan merah dan kubis yang pada Juli tahun sebelumnya menjadi penyumbang inflasi utama.

” Relatif terkendali, ini juga sejalan semakin kuatnya koordinasi, komitmen dan sinergi antara pemangku kepentingan dalam wadah TPID dalam pengendalian inflasi,”lanjutnya.

Disamping itu kata dia, pasokan yang terjaga serta antisipasi dini menyebabkan inflasi Juli 2018 lebih rendah daripada periode sebelumnya.

Sementara kota yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Sulsel berasal dari Pare-pare sebesar 1,02%, diikuti kota Watampone 0,89%, Palopo 0,72%, Bulukumba 0,51% dan Makassar 0,48%.

” TPID bersama dengan pemerintah daerah terus berupaya menjaga ketersediaan keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi antara lain menjaga ketersediaan pasokan pangan termasuk ketersediaan ternak untuk antisipasi meningkatnya permintaan pada saat Idul Adha,”tutup Dwityapoetra S Besar. (**)