Nilai Dolar USA Tembus Rp15.029, Syahar Minta Masyarakat Jangan Panik

Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syahruddin Alrif.

Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syahruddin Alrif

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus angka Rp 15.029, pada Selasa 4 September 2018 malam.

Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syahruddin Alrif meminta masyarakat tidak panik.

Advertisment

Menurut Syaharuddin Alrif, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar sangat berbeda dengan krisis moneter pada 1998 silam.

“Pelemahan rupiah saat ini sebenarnya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan
situasi saat krisis, dua dekade silam. Jadi masyarakat tidak perlu panik,” sebut Syahar sapaan akrab Legislator Partai NasDem ini, beberapa saat lalu.

Syahar menjelaskan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini relatif berlangsung secara perlahan dan tidak drastis. Sejak awal tahun hingga level terendahnya, rupiah melemah 9,3%.

Jika dibandingkan dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat krisis 1998. Tahun itu, pada 17 Juni, rupiah mencapai level terendahnya, Rp 15.250 per dollar AS.

“Tahun 1998, rupiah bergerak pada rentang Rp 5.650- Rp 15.250 per dollar AS. Dalam satu hari, rupiah bisa menguat 20,66% atau melemah 24,11%. Nilai rupiah yang terjun bebas, diikuti dengan fluktuasi yang tinggi, ketika itu membuat hitungan bisnis kacau dan masyarakat panik,” katanya.

Berbeda dengan kondisi sekarang, jelas Syahar, di mana pelaku usaha seharusnya masih bisa menyerap efek dari pelemahan rupiah yang tidak drastis dengan volatilitas relatif tidak terlalu tinggi.

“Dibandingkan gejolak 1997/1998, pergerakan rupiah saat ini bisa dibilang relatif kalem, yakni di kisaran Rp 13.542 – Rp 14.815 per dollar AS. Begitupun pergerakan harga hariannya, hanya menguat 0,98% dan melemah 0,61%,” jelasnya.

Lebih jauh, terang Syahar, cadangan devisa jauh lebih besar Kendati turun dari posisi akhir tahun 2017. Dimana posisi cadangan devisa saat ini masih jauh lebih besar dibandingkan dengan kondisi saat krisis 1998. Saat itu, cadangan devisa Indonesia hanya mencapai US$ 23,61 miliar.

“Sedangkan, per akhir Juli 2018, cadangan devisa mencapai US$ 118,3 miliar. Itu berarti, lima kali lipat lebih besar ketimbang cadangan devisa 20 tahun silam,” sebutnya.

Syahar pun mengatakan kepercayaan investor masih kuat. Minat investasi asing terhadap surat utang suatu negara merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung memperlihatkan baik buruk kondisi makroekonomi suatu negara.

“Logikanya, tidak ada investor yang
mau menempatkan uangnya di negara yang tengah sakit. Intinya, pemerintah akan memastikan bahwa fiskal bukan sumber dari ketidakpasatian,” jelas Syahar. (**)