Rupiah Kian Lemah, Ekonom Minta Pengusaha Lebih Berhemat

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara. (Int)

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara. (Int)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kondisi nilai tukar rupiah terus tergerus terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) hingga pukul 19.20 WIB, Selasa malam, 4 September 2018 telah menembus angka Rp 15.029.

Advertisment

Kondisi pelemahan rupiah yang sedang terjadi dianggap masih sama sumber masalahnya, yakni dampak dari situasi negara lain.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, selain karena faktor global, faktor domestik juga bisa mempengaruhi hal tersebut.

Misalnya, kondisi kinerja perdagangan Indonesia kurang optimal. Neraca perdagangan terus mengalami defisit.

Menurut Bhima hal ini akan mempengaruhi defisit transaksi berjalan yang kuartal II 2018 tembus 3%.

Tidak hanya itu, kondisi terbaru tekanan krisis Turki dan Argentina yang merembet ke negara berkembang menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar global.

” Kini korbannya adalah Afrika Selatan dengan kurs Rand anjlok 16% sejak awal tahun. Kondisi diperparah oleh rencana kenaikan Fed rate pada akhir September ini,”ujar Bhima Yudhistira saat dihubungi Djournalist.com, Rabu 5 September 2018.

Akibatnya, lanjut Bhima, investor melakukan flight to quality atau menghindari resiko dengan membeli aset berdenominasi dolar. Indikatornya US Dollar index naik 0,13% ke level 95,2.

” Dolar index merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang lainnya,”jelas Bhima.

” Investor asing juga melepas kepemilikan surat utangnya. Yield spread antara SBN 10 th dan Treasury bond melebar,”tambahnya.

Artinya, pelemahan rupiah diproyeksi akan berlanjut hingga tahun depan di atas Rp15.000 batas psikologis yang bisa diterima sektor usaha.

Sementara tahun 2019 harus diwaspadai kebijakan bunga acuan Fed yang akan naik 3 kali lagi bisa memicu pelemahan kurs lebih dalam.

Bhima pun mengimbau, para pelaku pengusaha harus mulai berhemat. Biaya produksi ditekan, efisiensi di segala lini, sehingga siap menghadapi penurunan penjualan karena krisis.

Senada pelaku pasar saham nasional, Diah Amini, menuturkan, kondisi pelemahan rupiah memang seperti krisis 98 lalu, namun situasinya berbeda dengan kondisi ekonomi tahun ini.

“Sekarang ini lembaga keuangan kita seperti pebankan sudah lebih baik dan sudah punya mekanisme sendiri untuk menghadapi situasi lemahnya dollar tapi dollarnya sendiri tidak kuat-kuat amat,” ungkap Diah yang memiliki kafe 1Lote yang menjadi komunitas bursa pasar saham.

Gejolak global ini adalah normal sebagai negara yang punya transaksi memakai dollar AS, krisis tidak hanya membuat satu unsur jatuh tapi juga menjadi peluang bagi unsur lain untung. Seperti aktivitas ekspor dan momen yang baik untuk meraup wisatawan manca negara sebesar-besarnya.

“Walaupun itu juga membebani negara dengan utang-utang dari jaman dulu yang harus dibayar pakai dollar, utang ya harus diurai pemakaian dan pengembaliannya seperti apa. Terus IHSG memang beberapa gagal break, hari ini minus – 4,71%,” ungkap Diah.

Kondisi IHSG seperti itu bagi Diah mau tidak mau memaksa pemain di lantai bursa harus wait and see dan tidak panik serta lebih kuat mentalnya menghadapi situasi saat ini.

Baik Bima maupun Diah, menyarankan kepada pelaku usaha untuk melakukan efisinsi dan penghematan transaksi dollar serta mengoptimalkan kinerja perdagangan dalam negeri serta menggiatkan ekspor.

Pengusaha dan masyarakat umum diharapkan untuk mengurangi transaksi memakai kurs dollar dan melepas mata uang negeri Trump itu agar kurs rupiah tidak goyah.

“Bagi pengusaha ya kurangi transaksi dengan dollar biar rupiah kita gak mudah goyah kalau perlu masyarakat melepas dollarnya dan memakai rupiah serta mengoptimalkan pemakaian produk-produk dalam negeri jadi tidak perlu barang-barang impor,” tutup Diah.(**)