Ketua Apindo Makassar Ingin Nilai Tukar Rupiah Stabil

Ketua Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (DPK) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Makassar, Muammar Muhayang. (Foto:int)

Ketua Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (DPK) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Makassar, Muammar Muhayang. (Foto:int)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Pengusaha Makassar berharap nilai tukar rupiah segera stabil.

Hal ini terkait kondisi nilai tukar rupiah terus tergerus terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menembus angka Rp 15.029.

Advertisment

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (DPK) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Makassar, Muammar Muhayang, Rabu 5 September 2018.

” Ya namanya pengusaha, kami ingin ada stabilitas nilai tukar. Enggak ada up and down yang terlalu berlebihan, tapi ya balik lagi ke pemerintah yang bisa kontrol ini,” ujarnya.

Muammar juga meminta pemerintah bisa menjaga inflasi dan segera mencari solusi peningkatan ekspor agar bisa menyeimbangkan neraca perdagangan.

” Kita berharap pemerintah tetap menjaga kondisi ekonomi sosial politik dan keamanan tetap kondusif,”harapnya.

Sebagaimana diketahui, pelemahan nilai tukar rupiah tak lepas dari Indonesia yang masih terlalu bergantung terhadap bahan impor sehingga memengaruhi permintaan dolar AS.

Meski demikian, ia mengharapkan pelemahan pelemahan nilai tukar rupiah tidak mengganggu daya beli masyarakat.

” Mau gak mau yah biaya produksi harus ditekan dan efisiensi di segala lini, dan siap menghadapi penurunan penjualan karena krisis,”tambahnya.

Sementara, Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi, kondisi nilai tukar rupiah yang merosot diproyeksikan akan terus berlanjut hingga tahun 2019.

” Pelemahan rupiah diproyeksi akan berlanjut hingga tahun depan di atas Rp15.000, batas psikologis yang bisa diterima sektor usaha,”sebut Bhima.

Bhima pun mengimbau, para pelaku pengusaha harus mulai berhemat. Biaya produksi ditekan, efisiensi di segala lini sehingga siap menghadapi penurunan penjualan karena krisis.

Pelaku pasar saham nasional, Diah Amini, menambahkan, Gejolak global ini adalah normal sebagai negara yang punya transaksi memakai dollar AS, krisis tidak hanya membuat satu unsur jatuh tapi juga menjadi peluang bagi unsur lain untung.

Seperti aktivitas ekspor dan momen yang baik untuk meraup wisatawan manca negara sebesar-besarnya.

Baik Bima maupun Diah, menyarankan kepada pelaku usaha untuk melakukan efisinsi dan penghematan transaksi dollar serta mengoptimalkan kinerja perdagangan dalam negeri serta menggiatkan ekspor.

Pengusaha dan masyarakat umum diharapkan untuk mengurangi transaksi memakai kurs dollar dan melepas mata uang negeri Trump itu agar kurs rupiah tidak goyah.

“Bagi pengusaha ya kurangi transaksi dengan dollar biar rupiah kita gak mudah goyah kalau perlu masyarakat melepas dollarnya dan memakai rupiah serta mengoptimalkan pemakaian produk-produk dalam negeri jadi tidak perlu barang-barang impor,” tutup Diah.(**)