Bank HSBC-PSF Semiloka Keuangan dan Perbankan di Makassar

(kiri-kanan) Andri Kesmawan, Ketua Relawan Jurnal Indonesia (RJI), Dr. Wahyoe Soedarmono, Project Manager Program Kerja Sama PSF - HSBC, Dani Surya Sinaga, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan sebagai perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, Regional 6 (Sulawesi, Maluku, Papua), Dr. Jasruddin, M.Si, Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sulawesi, Prof H Marsuki DEA, Ph.D, Senior Economist of UNHAS, Berly Martawardaya, Ph.D, Program Director of INDEF (Institute For Development of Economic and Finance) dalam acara seminar dan lokakarya yang bertajuk "Memperkuat Sinergi Tripartit Pendidikan untuk Pembangunan".

(kiri-kanan) Andri Kesmawan, Ketua Relawan Jurnal Indonesia (RJI), Dr. Wahyoe Soedarmono, Project Manager Program Kerja Sama PSF - HSBC, Dani Surya Sinaga, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan sebagai perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, Regional 6 (Sulawesi, Maluku, Papua), Dr. Jasruddin, M.Si, Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sulawesi, Prof H Marsuki DEA, Ph.D, Senior Economist of UNHAS, Berly Martawardaya, Ph.D, Program Director of INDEF (Institute For Development of Economic and Finance) dalam acara seminar dan lokakarya yang bertajuk "Memperkuat Sinergi Tripartit Pendidikan untuk Pembangunan".

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Bank HSBC Indonesia dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Sampoerna University menyelenggarakan semiloka (seminar dan lokakarya) keuangan dan perbankan bertajuk “Memperkuat Sinergi Tripartit Perguruan Tinggi untuk Pembangunan” di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program edukasi keuangan jangka panjang HSBC, PSF dan Sampoerna University, khususnya di wilayah bagian timur Indonesia.

Advertisment

Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko, menjelaskan, pemahaman serta akses terhadap produk dan jasa keuangan berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Karenanya, sejak tiga tahun terakhir kami berkolaborasi dan bersinergi dengan PSF dan Sampoerna University guna menginisiasi berbagai program edukasi keuangan dan perbankan yang menyasar agen kunci pertumbuhan ekonomi daerah, yaitu para pelajar, dosen, dan komunitas lokal di berbagai wilayah di Indonesia,”kata Nuni Sutyoko.

Ia juga menambahkan bahwa hal ini merupakan cerminan komitmen HSBC untuk senantiasa mendorong bisnis yang berkesinambungan dengan membangun masyarakat dari segi sosial, lingkungan, dan ekonomi di manapun HSBC berada.

“Program edukasi keuangan ini merupakan kolaborasi strategis antara institusi pendidikan dan praktisi industri dalam menjawab berbagai tantangan di sektor keuangan dan perbankan. Semoga dapat turut menciptakan efek domino terhadap kesejahteraan masyarakat, serta berkontribusi pada percepatan ekonomi di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar,” jelas Nuni.

Semikola ini terbagi menjadi dua kegiatan utama. Pertama, kuliah umum mengenai karir dan pengelolaan keuangan untuk para mahasiwa yang diselenggarakan pada tanggal 4 September di Universitas Hasanuddin (UNHAS).

Kedua, program pengabdian masyarakat untuk masyarakat lokal binaan kampus yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 September, bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Nitro.

Dalam semiloka ini, Sampoerna University bertanggung jawab sebagai perencana dan penyusun kurikulum.

Wahyoe Soedarmono, Project Manager Program Kerja Sama HSBC PSF sekaligus ekonom dari Sampoerna University menjelaskan, lewat kegiatan ini, para mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan wawasannya agar siap menghadapi tuntutan dunia kerja.

Sedangkan masyarakat binaan, khususnya pelaku UMKM dan ibu rumah tangga, dapat diberdayakan sehingga mampu lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga dan usaha.

Berdasarkan pengalaman HSBC bersama PSF dan SU lewat berbagai program edukasi lain yang diselenggarakan sebelumnya, perkembangan literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Selatan sudah terbilang baik.

Namun, Wahyoe menjelaskan, agar dapat secara berkelanjutan memperkuat literasi dan inklusi keuangan di wilayah Sulawesi Selatan, masih diperlukan sinergi dan kolaborasi dari dunia akademisi, praktisi industri dan pemerintah.

“Sektor jasa keuangan lokal terus tumbuh dengan pesat. Sementara, masih banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman cukup mengenai produk dan jasa keuangan. Ini yang perlu kita dorong bersama-sama.  Saya berharap melalui semiloka ini, masyarakat, khususnya para mahasiswa dapat memahami lebih jauh relevansi pemahaman dan inklusi keuangan terhadap perencanaan masa depan mereka,”paparnya.

Program edukasi keuangan yang diselenggarakan HSBC bersama PSF dan Sampoerna University  senantiasa mengusung nilai tri dharma perguruan tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Untuk itu, selain semiloka, sebagai bagian dari rangkaian program HSBC Indonesia Membina diselenggarakan pula program Training for Trainers (ToT) bagi para dosen di bidang keuangan dan perbankan selama tiga hari, yaitu pada tanggal 3-6 September 2018.

Dalam kesempatan ini, sebanyak kurang lebih 150 dosen di bidang keuangan dan perbankan serta bankir muda dari wilayah Sulawesi dan Maluku akan mendapatkan pelatihan lewat modul kompetensi terkini, yang juga merupakan modul inovasi keuangan digital pertama yang pernah dibuat di Indonesia.

Modul berfokus pada tiga topik mutakhir di bidang keuangan dan perbankan modern, yaitu microfinance, wealth management dan financial technology.

Makassar merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan perkembangan ekonomi yang cukup signifikan. Pada tahun 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 7,3 persen dan berada pada peringkat kedua nasional setelah Provinsi Maluku Utara.

Pembangunan infrastruktur yang terus berkembang, terutama di sektor keuangan dan perbankan, memunculkan kebutuhan akan SDM lokal yang berkualitas dalam memimpin dan mengelola industri, apalagi untuk menghadapi tantangan dan peluang di tengah tumbuhnya berbagai inovasi digital di bidang keuangan dan perbankan.

“Seiring dengan perkembangan teknologi, industri keuangan dan perbankan terus bertansformasi. Lewat modul pelatihan ini, kami berharap perguruan tinggi lokal tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan pesat industri keuangan dan perbankan modern, sehingga dapat mencetak lebih banyak lagi bankir-bankir masa depan dengan kompetensi dan spesialisasi khusus,” tutup Nuni. (**)