Biaya Bengkak, Travel Umrah Naikkan Harga 10%

Ilustrasi. (Foto:int)

Ilustrasi. (Foto:int)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Pengusaha di bidang jasa perjalanan umrah terpaksa menaikkan harga jual hingga 10%. Angka kenaikan ini mengikuti bengkaknya biaya komponen umrah yang menggunakan standar dollar.

Ketua DPD Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji & Umroh Republik Indonesia (AMPHURI) Sulampua, HM Azhar Gazali mengemukakan, dalam kondisi pelemahan rupiah jelas bisnis biro perjalanan terpukul. Sebab, biaya operasional jemaah ditransaksikan menggunakan dollar.

Advertisment

Demi bisnis tetap lancar, lanjutnya, pihak travel melakukan penyesuaian harga. Sejak awal pelemahan rupiah, kenaikan harga jual sudah sebesar 5 % hingga 10%. Kenaikan tersebut rerata dilakukan oleh travel dalam naungan Amphuri.

“Sebaiknya untuk kondisi sekarang kita jualan dengan harga jual dollar aja,” kata Azhar.

Ia melanjutkan, namun kenaikan ini hanya berlaku bagi jemaah baru. Ini sebagai bentuk komitmen kepada jemaah.

“Berat jika bertahan dengan harga lama yang belum menyesuaikan kurs terbaru.
Tapi kita tetap komitmen. Ini (kenaikan harga) berlaku untuk jemaah baru,” ujarnya.

Pasca kenaikan harga, ia mengaku pendaftar calon jemaah cenderung mengalami penurunan.

“Menurun sih kita liat aja. Ini hanya soal create produk dan menciptakan stimulan dan kemudahan,” tuturnya.

Lebih jauh, Azhar menjelaskan, penyesuaian harga pembiayaan umrah menjadi solusi. Demi menggaet jemaah, pihak travel mengambil langkah strategis. Seperti membuat produk lebih menarik diikuti pelayanan yang lebih baik. Mengatur jadwal keberangkatan dengan memberikan solusi tabungan umrah bekerja sama dengan perbankan.

“Juga jualan paket ekonomis sehingga bisa menekan harga tapi tetap mengakomodir keberangkatan. Perkuat kerja sama dengan vemdor international diikuti negoisasi harga. Itu yang kami lakukan,” urainya.

Jika Amphuri terpaksa melakukan penyesuaian harga, berbeda dengan sikap yang diambil Ketua Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (KESTHURI), Usman Jasad. Ia lebih memilih bertahan dengan harga lama.

Lelaki yang akrab disapa Ustad Ujas ini tidak menampik pelemahan rupiah sangat
berpengaruh ke bisnis umrah. Alasannya hampir seluruh komponen pembiayaan umrah menggunakan standar dollar.

“Terutama tiket dan visa,” jelasnya.

Kendati demikian, lanjut Ustas Ujas, sejauh
ini pihaknya belum melakukan penyesuaian harga.

“Jamaah sebagian sudah DP (Setor uang muka), kalau harga dinaikkan pasti mereka protes. Kepada jemaah baru? belum bisa dipastikan (Bakal dinaikkan),” jelasnya.

Dalam situasi ini, pengusaha harus menanggung penuh akibat bengkaknya biaya komponen umrah. Ujas mengaku, pilihan ini akan tetap dipertahankan sampai tidak bisa lagi melakukan subsidi.

“Kalau tidak menyesuaikan harga jual. Berarti mau tidak mau pihak travel ahrus menanggung sendiri risikonya. Sampai tidak bisa lagi disubsidi,” pungkasnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mulai merangkak di atas Rp 13.500, dari Rp 13.600 hingga Rp 13.700, pada akhir Februari dan awal Maret 2018. Pertama kali rupiah menyentuh level Rp 13.600 tepatnya tanggal 8 Februari 2018, di mana setelah itu sempat turun ke level Rp 13.500 namun bertahap naik ke Rp 13.700 sampai Rp 13.800 pada akhir April.

Selepas bulan April dan memasuki Mei, rupiah ada di posisi Rp 13.800-13.900 kemudian pada Selasa (8/5/2018) tembus ke angka Rp 14.036 dan naik tipis jadi Rp 14.074 pada Rabu (9/5/2018). Hari ini (6/9/18) menguat pada perdagangan hari ini. Dolar AS pun berhasil didorong ke bawah Rp 14.900. (**)