Membangkitkan Kejayaan Kakao Sulsel

Focus Group Discussion bertajuk mengembalikan kejayaan kakao Sulsel, di gedung PKP Unhas, Sabtu (27/10/2018).

Focus Group Discussion bertajuk mengembalikan kejayaan kakao Sulsel, di gedung PKP Unhas, Sabtu (27/10/2018).

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kakao pernah menjadi identitas masyarakat Sulawesi Selatan ketika mengalami masa jaya di tahun 1990-an.

Di saat krisis menghantam di tahun 1997, seiring dengan menguatnya dolar AS secara drastis terhadap rupiah, petani kakao justru menikmat berkah dengan kondisi tersebut.

Advertisment

Kondisi ini ternyata tak bertahan lama seiring dengan semakin menurunnya produktivitas petani kakao.

Pohon kakao yang semakin tua membuatnya rentan terhadap beragam hama dan penyakit. Salah satu hama yang cukup agresif menyerang adalah Penggerek Buah Kakao (PBK) yang bisa menurunkan produktivitas kakao hingga 60 persen bahkan lebih.

Di sebagian daerah kakao mulai ditinggalkan dan bahkan ada yang dikonversi menjadi kebun untuk komoditas lain, seperti sawit dan merica.

Produktivitas petani turun drastis, bahkan ada yang hanya bisa panen 250 kg per hektar per tahun. Ini menjadi ironis karena kakao Indonesia, khususnya Sulsel justru memiliki karateristik unik dan lebih berkualitas dibanding kakao dari negara lain.

“Kakao kita di Indonesia kalau dipermentasikan tidak kalah dengan Ghana. Kakao kita lebih tahan panas sehingga kualitas jauh lebih bagus,” ungkap Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balibangda) Sulawesi Selatan, Iqbal Suhaeb, dalam Focus Group Discussion bertajuk mengembalikan kejayaan kakao Sulsel, di gedung PKP Unhas, Sabtu (27/10/2018).

Menurut Iqbal, Sulsel adalah salah satu sentra produksi kakao di Indonesia, dengan produksi mencapai 50 persen dari produksi nasional jika digabung dengan Sulawesi Barat.

“Kita pernah menjadi produsen ketiga terbesar di dunia dengan produksi 400 ribu ton, lalu terus menurun. Tahun lalu produksi hanya sampai 200 ribu ton saja. Padahal kebutuhan kakao sendiri sekitar 800 ribu ton. Secara nasional, Sulsel dan Sulbar menyumbang 50 persen. Artinya kalau kakao di Sulsel bermasalah maka secara nasional pun akan bermasalah,” katanya.

Menurut Iqbal, salah satu tantangan terbesar kakao kita saat ini adalah usia pohon yang tua, 20 tahun ke atas.

Di sisi lain, petani kakao juga didominasi oleh petani-petani tua, sementara anak-anak mereka tidak ingin melanjutkan profesi orang tua mereka sebagai petani .

“Padahal kebutuhan kakao saat ini sangat tinggi. Bicara dalam negeri saja sudah sangat butuh,”tambah Iqbal.

Iqbal mengakui kondisi kakao di Sulsel saat ini memperihatinkan. Berbagai program yang telah dilakukan, termasuik Gernas Kakao hasilnya tidak terlalu optimal.

“Ini harus dipikirkan, kalau kakao Sulsel bisa bangkit, maka Indonesia bisa bangkit. Kalau ini bisa menjadi prioritas unggulan maka salah satunya adalah kakao. Semoga dari kegiatan ini  kakao tidak hanya dipikirkan dinas tetapi multisektor. Tidak hanya di hulu, sehingga memberi keuntungan bagi petani. Bisa meningkatkan kesejahteraan mereka,”tutup Iqbal. (**)