Bank Indonesia Tekan Inflasi Lewat Tujuh Kawasan Peduli Inflasi di Makassar

Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel dengan melaunching 7 Kawasan Peduli Inflasi sinergi BI dengan Pemerintah Kota Makassar, Jumat 23 November 2018.

Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel dengan melaunching 7 Kawasan Peduli Inflasi sinergi BI dengan Pemerintah Kota Makassar, Jumat 23 November 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Upaya pengendalian inflasi di Sulsel khususnya di Makassar terus digalakkan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel dengan melaunching 7 Kawasan Peduli Inflasi sinergi BI  dengan Pemerintah Kota Makassar, Jumat 23 November 2018.

Pembangunan tersebut merupakan tindak lanjut dukungan BI atas pengembangan lorong peduli inflasi tahun 2017 dan kegiatan penanaman 10.600 pohon cabai secara serentak di Kota Makassar yang telah dilaksanakan pada 29 Januari 2017.

Advertisment

Pemanfaatan kawasan peduli inflasi terdapat di 7 lokasi, yaitu Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakukkang, Kelurahan Lajangiru, Kecamatan Ujung Pandang, Kelurahan Ballang Baru, Kecamatan Tamalate, Kelurahan Timongan Lompoa, Kecamatan Bontoala, Kelurahan Malimongan, Kecamatan Wajo, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea dan Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala.

” Kita tahu bahwa andil Kota Makassar terhadap inflasi Sulsel mencapai 78,12%, kawasan peduli inflasi ini menjadi sarana atau media bercocok tanam komoditas pangan penyumbang inflasi utama di Kota Makassar, suatu inovasi yang sangat baik mengingat Kota Makassar sebagai kota jasa dan dagang yang menjadi penyangga perekonomian di Sulsel bahkan KTI namun memiliki keterbatasan lahan produktif untuk bercocok tanam,”ujar Bambang Kusmiarso, Kepala Bank Indonesia Sulsel.

Menurut Bambang, keberadaan 7 kawasan peduli inflasi diharapkan mampu memotivasi dan menjadi percontohan bagi daerah lainnya dalam pengembangan kawasan produktif.

Selanjutnya, keberadaan kawasan peduli inflasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, partisipasi dan sumber mata pencaharian baru masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) maupun kelompok tani lorong dalam penyediaan sumber pangan keluarga dan membangun kebersamaan serta menjalin hubungan silaturrahim antar warga sekaligus menjadikan lorong menjadi kawasan yang indah, nyaman dan bersih.

” Kami berharap 7 kawasan peduli inflasi yang telah terbangun agar dirawat, dimanfaatkan dan dipergunakan sebaik-baiknya serta terus dikembangkan sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar dalam pengendalian inflasi sehingga bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita kita bersama,”lanjut Bambang.

Kedepan, pihaknya berharap program pengembangan kawasan peduli inflasi agar dapat terus diperkuat tidak hanya sebatas pada aspek produksi, namun juga aspek lainya seperti penguatan kelembagaan, akses pasar dan penciptaan nilai tambah atau hilirasi produk yang dihasilkan melalui pengembangan industri skala rumah tangga sehingga akan lebih berdampak luas terhadap perekonomian. (**)