Kemenpar Sosialisasi Program Homestay Desa Wisata di Tana Toraja, Sulsel

Kementerian Pariwisata menggelar sosialisasi manajemen Homestay/ Pondok Wisata/ Rumah Wisata di Hotel Sahid, Tana Toraja, Rabu 12 Juni 2019.

Kementerian Pariwisata menggelar sosialisasi manajemen Homestay/ Pondok Wisata/ Rumah Wisata di Hotel Sahid, Tana Toraja, Rabu 12 Juni 2019.

JAKARTA, DJOURNALIST.com – Dalam rangka memajukan dan mengembangkan sektor pariwisata di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Kementerian Pariwisata menggelar sosialisasi manajemen Homestay/ Pondok Wisata/ Rumah Wisata di Hotel Sahid, Tana Toraja, Rabu 12 Juni 2019.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kementerian Pariwisata, Anneke Prasyanti yang hadir sebagai nara sumber mengatakan, sosialisasi ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata, tata kelola destinasi pariwisata, dan kapasitas masyarakat pelaku usaha pariwisata.

Advertisment

Program Homestay Desa Wisata sendiri termasuk dalam 3 program prioritas Kementerian Pariwisata yang diusung sebagai jawaban atas pemenuhan amenitas dalam bentuk akomodasi dan penginapan.

” Tujuannya mengembangkan Homestay dengan kriteria, yaitu, terletak di Desa Wisata yang memiliki atraksi berbasis alam dan/atau budaya, dikelola oleh komunitas lokal/ disebut Pariwisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism) dan dihimbau mempertahankan kearifan lokal (arsitektur nusantara, seni dan budaya, kuliner), “kata  Anneke.

Selain amenitas, Kementerian Pariwisata juga mendorong pemenuhan aksesibilitas pada setiap destinasi pariwisata agar mudah mencapai lokasi atraksi. Pengembangan Homestay Desa Wisata yang memanfaatkan hunian yang sudah dapat memberikan dampak ekonomi yang langsung menetes ke masyarakat desa.

Kegiatan pengelolaan homestay ini diharapkan mampu mendukung kebutuhan amenitas untuk target 20 juta wisatawan masuk ke Indonesia pada tahun 2019.

Pada acara sosialisasi juga diberikan arahan mengenai pengelolaan Homestay sesuai dengan standar ASEAN. Indonesia sendiri memiliki potensi keberagaman hunian yang lebih banyak dibandingkan negara ASEAN lainnya dan dapat menjadi aset pariwisata.

“Masyarakat patut bangga dan terus melestarikan budaya asli. Tidak hanya dalam bentuk bangunan, adat istiadat dan budaya setempat pun dapat menjadi nilai jual, sehingga perlu dilestarikan. Wisatawan akan sangat tertarik dengan kekayaan budaya setempat,”tambah Anneke.

Dalam sosialisasi ini juga diputar salah satu kisah sukses pengelolaan kawasan Homestay Desa Wisata, yaitu di Desa Penglipuran, Bali.Awalnya, Desa Penglipuran sendiri bukan merupakan Desa Wisata, tetapi para tokoh masyarakat melihat adanya potensi pariwisata pada keunikan arsitektur tradisional yang diwarisi oleh adat.

Dengan menerapkan pembangunan Desa Wisata berbasis masyarakat, para tokoh masyarakat turut serta melibatkan warga untuk berperan aktif dan juga kreatif dalam mengembangkan potensi yang sesuai dengan kearifan lokal.

Material pembangunan rumah tradisional di Desa Penglipuran berasal dari alam sekitar Desa itu sendiri. Potensi lokal yang dilestarikan dan diberdayakan adalah sumber ekonomi masyarakat Penglipuran. Detil Homestay Desa Wisata Penglipuran dapat dilihat di kanal Youtube Homestay Nusantara.

“Salah satu nilai unik dari Homestay Desa Wisata adalah pengalaman berbeda dengan hotel, yaitu mengusung konsep home sharing, tinggal bersama penduduk dan melakukan aktivitas bersama-sama. Hal ini sedang menjadi trend di dunia”, sebut Anneke Prasyanti.

Hal ini yang membedakan Homestay dengan penginapan lainnya adalah para wisatawan yang menginap diharapkan dapat menikmati suasana lokal sembari belajar / mengikuti kegiatan pemilik rumah/ warga desa, baik kegiatan keseharian maupun kegiatan budaya dan adat.

Kisah sukses Pengelola Homestay Desa Wisata lainnya dapat dilihat di dalam mini series berjudul ‘Pranata Nusantara’ dalam kanal Youtube Homestay Nusantara. Disitu diceritakan, bahwa Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), pengelola yang berasal dari masyarakat lokal, memadukan konsep menginap dengan kegiatan masyarakat seperti mempelajari kebudayaan dan seni atau melihat langsung upacara adat/religi.

Kriteria mengenai pengelolaan Homestay Desa Wisata yang baik juga terdapat dalam Buku Panduan Homestay Desa Wisata yang dibagikan oleh Tim kepada Dinas Pariwisata dan Pokdarwis Desa.

Menurut Anneke Prasyanti, landuan terus diperbarui dengan informasi-informasi yang dapat menjadikan buku semakin lengkap, khususnya mengenai regulasi perundangan yang melingkupinya.

Hadir dalam kegiatan, anggota DPRD, pejabat dan pengelola desa, Dinas Pariwisata, Kelompok Sadar Wisata, dan masyarakat pelaku usaha pariwisata. (***)