BI Luncurkan QRIS, Bantu Jaga Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Tetap Tinggi

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng beserta petinggi BI saat membuka KTI Digital Festival 2020, di Celebes Convention Center (CCC), Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Sabtu 11 Januari 2020.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng beserta petinggi BI saat membuka KTI Digital Festival 2020, di Celebes Convention Center (CCC), Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Sabtu 11 Januari 2020.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah memuji Inovasi Bank Indonesia dalam sistem pembayaran non tunai standar Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesia Standard (QRIS).

Hal tersebut disampaikan Nurdin Abdullah saat membuka KTI Digital Festival 2020, di Celebes Convention Center (CCC), Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Sabtu 11 Januari 2020.

Advertisment

NA, akronim Nurdin Abdullah juga berharap event literasi keuangan BI ini turut menyentuh pelaku ekonomi seluruh masyarakat. Apalagi menurut orang nomor 1 di sulsel masih terus menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan volume aktivitas perdagangan.

“Inovasi ini yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tugas pemerintah, bagaimana daya beli masyarakat ini kita jaga,” kata NA.

BI pun mendukung dan menjamin inovasi baru ini kan menjaga pertumbuhan ekonomi di Sulsel tetap tinggi.

“BI akan mendukung upaya Pemprov Sulsel dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi di atas tujuh persen,” ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng.t

Latar belakang pelaksanaan KTI DIGIFEST 2020 di Kota Makassar mengingat Sulawesi Selatan merupakan daerah yang istimewa dan unik. Dengan julukan “the gateway of eastern indonesia”, Sulawesi Selatan menjadi pusat ekonomi, pariwisata, kuliner, pendidikan serta jasa kesehatan untuk Kawasan Timur Indonesia.

Melalui inisiatif DIGIFEST 2020, diharapkan penggunaan QRIS sebagai salah satu kanal transaksi pembayaran digital dapat segera dikenal dan diimplementasikan oleh masyarakat luas, khususnya di KTI.

KTI DIGIFEST 2020 merupakan hasil inisiatif Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah, Perbankan, PJSP Non-Bank dan Pelaku Industri untuk membangun masyarakat yang digitally inclusive melalui implementasi QRIS dalam pengembangan ekonomi digital khususnya di Kawasan Timur Indonesia, dan nasional pada umumnya.

Pungky Purnomo Wibowo, Direktur Eksekutif Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran BI menambahkan, manfaat QRIS adalah nilai transaksi yang relatif murah.

“QRIS supaya benar-benar diterima masyarakat adalah harus tersedia di merchant-merchant, khususnya menengah ke bawah. Khususnya lagi UMKM,” ungkap Pungky saat mengadakan konferensi perss di maxx coffee.

Untuk menjangkaunya BI akan melakukan edukasi dan sosialisasi. Terutama bagi penyedia jasa sistem pembayaran, baik bank maupun fintech.

” Ini adalah suatu yang tidak bisa lagi ditawar-tawar. Ini adalah persembahan kita dari sistem pembayaran dari BI sebagai regulator untuk masyarakat bertransaksi non tunai secara tertib sehingga mempunyai financial plan yang lebih teratur yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” pungkas Pungky.

KTI DIGIFEST 2020 akan menghadirkan berbagai kegiatan, dimana transaksi pembayaran yang dilaksanakan akan menggunakan QRIS.

Adapun rangkaian kegiatan dalam KTI DIGIFEST 2020 tersebut antara lain:Bazaar dan expo dari berbagai lini industri yang melibatkan Perbankan, PJSP Non-Bank, bisnis ritel, perwakilan UMKM binaan BI se-KTI, komunitas hobi, pelajar dan mahasiswa.

Sementara, Kepala Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan, kegiatan ini dihadiri perwakilan BI dari dalam dan luar negeri.

“Walaupun KTI dikatakan jauh dari pusat ibu kota, pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia berada di KTI. KTI jadi tulang punggung pertumbuhan Indonesia,” kata Kusmiarso.

Ia memaparkan, Sulsel sebagai hub di KTI semakin meningkatkan perdagangan. Sulsel sebagai mesin pertumbuhan bagi KTI dan tumbuh tinggi di atas rata-rata nasional.

“Generasi milenial memiliki optimisme terhadap perekonomian. Tantangan yang ada adalah literasi keuangan digital yang harus ditingkatkan. Serta masih banyak kawasan KTI yang blank spot, hanya sekitar 50 persen kawasan KTI yang tercover dengan sinyal kuat,” terangnya. (***)