Inovasi BI QRIS Kedepan Sasar Milineal dan Transaksi Pemda

Salah seorang pengunjung terlihat menggunakan layanan QR Code Indonesia Standard (QRIS) dalam KTI Digital Festival 2020. (Foto:djournalist).

Salah seorang pengunjung terlihat menggunakan layanan QR Code Indonesia Standard (QRIS) dalam KTI Digital Festival 2020. (Foto:djournalist).

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Bank Indonesia memperkenalkan inovasi QR Code Indonesia Standard (QRIS) dalam KTI Digital Festival 2020, di Celebes Convention Center (CCC), Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, 11-12 Januari 2020.

Event ini menjadi ajang inklusif keuangan non tunai. BI pun optimis bila inovasi ini punya prospek menumbuhkan ekonomi Sulsel dan nasional.

Advertisment

Inovasi BI ini menjadi respon atas dinamika dalam era digitalisasi, maka pada tanggal 17 Agustus 2019 bertepatan dengan hari Kemerdekaan, Bank Indonesia meluncurkan standar Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesia Standard (QRIS).

Peluncuran QRIS merupakan salah satu implementasi Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025, yang telah dicanangkan pada Mei 2019.

Menurut Pungky Purnomo Wibowo Direktur Eksekutif Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran, inovasi QRIS sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi mengingat perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Namun untuk menjadi kebiasaan transaksi non tunai ini akan terus dilakukan edukasi dan sosialisasi terutama pada kaum milineal.

“Sekarang kelompok milenial itu 18-30 tahun, 98% sudah menggunakan transaksi non tunai. Transaksi non tunai kalau tidak menggunakan yang namanya uang elektronik pasti kita membutuhkan top up. Top up itu umumnya anak muda, di mana mereka dituntut untuk mempunyai rekening di bank. Sehingga otomatis rekening akan bertambah banyak. Sehingga inklusi keuangan akan semakin meningkat,” Jelas Pungky.

Karena itu, Pungky meyakini bahwa kalangan milineal adalah kekuatan pasar masa depan.

Pungky juga melihat pasar di Pemda juga potensial, ” Kita harus akui transaksi besar itu paling banyak dilakukan oleh Pemda yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita akan berusaha membangun satu komitmen yang sama antara BI dan kementerian lembaga terkait untuk menunaikan transaksi non tunai tersebut. Tapi tentunya harus mudah, gampang, serta lebih murah,”ungkap Pungky.

Salah satu pengunjung KTI DIGIFEST, andini mengakui bila pola transaksi QRIS memang lebih memudahkan transaksi dan murah.

” Lebih mudah dan murah dan sesuai trend yang sudah serba online sekarang ini,”ujar Dini.

Kehadiran berbagai inovasi BI transaksi non tunai tidak membuat tranksasi tunai menjadi hilang sama sekali.

” Di negara manapun uang kertas tetap harus ada. Tapi dengan perkembangan transaksi digital memang pertumbuhan uang yang beredar baik logam maupun kertas menjadi lebih lambat. Tapi inikan niatnya baik. Ini complimentary satu sama lain,” Jelas Pungky.

Pungky juga menjamin tidak ada pembatasan untuk uang tunai. Tapi pihaknya bakal tetap menyediakan fasilitas non tunai yanng akan digunakan lebih cepat, mudah dan murah buat penyelenggara sistem pembayaran tersebut. (***)