UMKM Tangguh Mampu Lewati Pandemi dan Pulihkan Ekonomi

Bank Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) bersama eNKRI kembali menggelar UMKM Business Talk di Gedung Centra UMKM pelataran parkir Bank Sulselbar, Rabu, 15 September 2021. Talk show yang kali ketiga ini mengangkat tema "Sinergitas Menuju UMKM Tumbuh dan Tangguh", Rabu, 15 September 2021.

Bank Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) bersama eNKRI kembali menggelar UMKM Business Talk di Gedung Centra UMKM pelataran parkir Bank Sulselbar, Rabu, 15 September 2021. Talk show yang kali ketiga ini mengangkat tema "Sinergitas Menuju UMKM Tumbuh dan Tangguh", Rabu, 15 September 2021.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com – Peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada perekonomian di Indonesia cukup besar. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan peningkatan tenaga kerja masih tergolong tinggi.

Namun, tentunya hal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan seluruh pihak untuk meningkatkan produktifitas UMKM agar mampu mendorong pemulihan perekonomian negeri. Dan, sinergitas merupakan kunci mencapai target.

Advertisment

Bank Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) bersama eNKRI kembali menggelar UMKM Business Talk di Gedung Centra UMKM pelataran parkir Bank Sulselbar, Rabu, 15 September 2021. Talk show yang kali ketiga ini mengangkat tema “Sinergitas Menuju UMKM Tumbuh dan Tangguh”.

Hadir sebagai narasumber; Pemimpin Cabang Utama Makassar PT Bank Sulselbar Muhammad Daenur Hafsir, Kepala Dinas Perindustrian Susel Ahmadi Akil, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kecil dan Industri Kreatif KADIN Sulsel Arfan Tualle, Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga. Dipandu; Fildzah Burhan. Keempat narasumber membahas seperti apa kondisi UMKM di Sulsel selama masa pandemi.

Kepala Dinas Perindustrian Susel Ahmadi Akil menjelaskan bahwa yang harus dipahami adalah berbicara tentang UMKM dan IKM tentu berbeda. Dimana, Industri Kecil Menengah (IKM) sudah pasti merupakan bagian dari UMKM.

“Jadi di instansi kami, lebih kepada berbicara industrinya. Di bawah kami di Dinas Perindustrian ada beberapa bagian pengolahan, yakni industri pengolahan besar, menengah, dan kecil,” terang Akhmadi.

Berbicara dampak perekonomian setelah Covid-19, sambung Akhmadi, tidak ada sektor yang tidak terkena. Dia menyampaikan kontribusi sektor industri pada PDRB Sulsel pada tahun 2019 berada di angka 13,7%. Dan sangat besar.

Namun setelah Covid-19 mulai sejak 2020 hingga 2021, kontribusi tersebut mengalami penurunan. Tetapi lebih pada industri kecil dan menengah. “Sementara industri besar tetap bertahan. Itu karena kebijakan nasional yang menginginkan industri besar tidak harus melihat adanya Covid-19. Industri besar dituntut harus tetap eksis melaksanakan ekspor besar,” paparnya.

Hanya saja, menurut Akhmadi, paling terdampak adalah industri kecil dan menengah yang pada tahun 2020 mengalami penurunan 12%. Adapun indusrti pengolahan yang paling terdampak, yakni pangan, fashion, kerajinan, dan logam.

“Empat hal ini mengalami penuruan. Dari jumlah indutri menengah yang mencapai 18 ribu lebih, setelah Covid-19 tersisa 14 ribu. Terjadi penurunan 3 ribu IKM. Itu karena aktifitas ekonomi yang tidak berjalan. Utamanya fashion yang mencapai 70% tidak ada lagi aktifitas di hotel. Begitu juga pangan. Intinya setelah Covid-19, industri mengalami dampak meski tidak signifikan,” jelasnya.

Akhmadi menegaskan kebijakan pemerintah pusat dan daerah tetap memberikan ruang kepada industri di Sulsel, meski tetap menegakkan protokol kesehatan. Sehingga di tahun 2021, industri pengolahan sudah mulai berkembang sedikit.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restosan Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga menegaskan bahwa bisnis perhotelan di Sulsel masih terus bergerak meski agak berat. “Tapi kami di PHRI Sulsel tidak sampai mengibarkan bendera putih seperti Jawa Barat,” tandasnya.

Menurut Anggiat, kondisi kebijakan pemerintah daerah di Sulsel agak berbeda dari Jawa. Dimana, mindset atau pola pikir pemerintah di Sulsel masih ada toleransi dan lebih fleksibel.”Kalau di Jawa kan, PPKM Level 4 sangat sadis. Kita tidak bisa bergerak sama sekali. Tetapi di Sulsel masih ada tolernasi dan lebih fleksibel,” sebutnya.

Namun, sambung Anggiat, industri hotel dan resotran dituntut bisa lebih kreatif agar bisa survive di tengah pandemi. “Bisnis hotel dan restoran adalah bisnis bergerak. Ketika masyaraat dikurung, mati hotel. Ketika toleransi dibuka, maka kami tetap bergerak. Tapi, kami di PHR mendorong dari sisi kreatifitas,” katanya.

“Termasuk PHRI mendorong relaksai perbankan. Penangguhan beberapa hal, misalnya pembayaran BPJS Kesehatan dan Tenaga Kerja pegawai. Kemudian setiap kegiatan kalau bisa didorong ke perhotelan. Kalu hotel bergerak, maka 101 industri yang melekat juga ikut bergerak,” terang Anggiat.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kecil dan Industri Kreatif KADIN Sulsel Arfan Tualle menyampaikan bahwa KADIN Sulsel punya program khusus di bidang UMKM, utamanya menghadapi pandemi. Program kerja itu harus mengutamakan pengusaha lokal.

“Karena yang bisa membuat maju daerah adalah di pengusaha lokal. Sehingga program KADIN dalam masa pandemi ini bagaimana kita menciptakan 14% pengusaha di setiap daerah,” katanya.

Arfan Tualle melanjutkan, program utama KADIN Sulsel saat ini yang tidak terlalu terhempas pademi adalah memanfaatkan industri kecil, misalnya kerajinan. “Kami punya pilot project di seluruh kabupaten/kota, seperti di Pangkep membuat produk UMKM yang ada kami upayakan 10% sistem pemasaran digital. Sekarang baru 6% dari120 ribu pelaku UMKM yang masuk ke pemasaran digital,” ungkapnya.

Adapun Pemimpin Cabang Utama Makassar PT Bank Sulselbar Muhammad Daenur Hafsir, prospektif perbankan, khususnya Bank Sulsel dan Barat masih sangat bagus. Bank Sulselbar di semua cabang sudah menggalakkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Alhamdulillah, Bank Sulselbar dipercaya oleh pemerintah dalam penyaluran KUR. Tidak semua bank dapat menyalurkan KUR. Dan, sejauh ini penyaluran kami cukup baik,” katanya.

Dengan penyaluran KUR apalagi di masa pandemi, Muhammad Daenur berharap bisa lebih maksimal. Meski masih ada pembatasan-pembatasan. “Namun sebenarnya itu tidak sampai membatasi kami. Karena program digitalisasi bisa kita manfaatkan untuk mencari potensi kredit baru,” terangnya.

Menurut Muhammad Daenur sejak dipercaya pada 2017, Bank Sulselbar sudah menyalurkan Rp37 miliar KUR. Artinya, kata dia, pergerakan kredit perbankan masih sangat prospektif.

“Meski kondisi sekarang agak berbeda dengan krisis ekonomi sebelumnya. Tapi paling tidak masih ada sektor yang bisa kita angkat dalam bentuk kredit-kredit. Apalagi NPL Bank Sulselbar untuk penyaluaran KUR masih sangat rendah di posisi 3%,” ungkapnya.

Sementara upaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat calon debitur, Bank Sulselbar memanfaatkan potensi karyawan milenial. Muhammad Daenur menuturkan di Cabang Utama Makassar sekitar 70% sampai 80% karyawannya berkategori milenial dan punya kreatifitas tinggi.

“Milenial itu bersosialisasi dengan medianya sendiri. Media itulah yang kami manfaatkan dalam penjualan produk, komunikasi dengan calon debitur. Karena keterbatasan-keterbatasan itu, maka media milenial kami gunakan menjalankan fungsi kami sebagai lembaga perbankan dan pembiayaan. Intinya, selalu ada cara yang dilakukan, khususnya dalam kondisi seperti ini,” tutup Muhammad Daenur.