2018 BPK Kementan Merancang Toko Tani Indonesia Berbasis Online

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian merancang aplikasi Toko Tani Indonesia (TTI) online dalam aplikasi e-commerce (business to business) yang melibatkan petani, masyarakat, lembaga keuangan, dan transportasi.

Hal ini sebagai wujud transformasi dalam pelayanan TTI agar dapat melayani masyarakat secara lebih luas, mudah dan murah.

Advertisment

“Tahun 2018 ini akan dikembangkan kembali 1.000 TTI dan 500 Gapoktan. Dengan kondisi ini, tidak mungkin lagi jika pengelolaan distribusi pangan dilakukan secara manual. Untuk itu, kita bangun e-commerce TTI,”ujar Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Amran Sulaiman, menyampaikan pidatonya disela-sela gala dinner bersama para leserta forum rektor indonesia yang digelar di Pelataran Baruga A. P. Pettarani, Universitas Hasanuddin pada Kamis malam 15 Februari, pukul 19.30 WIT

Kata Amran, manfaat aplikasi ini adalah, (1) ketersediaan informasi stok di sisi Gapoktan dan TTI, (2) kepastian pengiriman dan monitoring proses pengiriman, (3) jaminan kontinuitas pasokan, (4) minimalisasi biaya distribusi, (5) adanya kepastian harga dan stok yang dapat dibeli masyarakat, dan (6) informasi akses lokasi TTI terdekat bagi masyarakat.

Kedepan, lanjutnya, aplikasi ini akan terus dikembangkan sehingga masyarakat dapat ikut mengakses layanan TTI secara online.

Di banyak negara, konsep pangan fungsional telah berkembang sangat pesat.

“Masa’ Indonesia bisa bikin pesawat, lalu untuk traktor saja tak bisa? Bahkan kalau pun traktornya berjalan mundur, hantam saja! Nanti peneliti berikutnya yang bikin jalannya jadi maju!”, tegas Mentan.

Lebih lanjut, Mentan Amran mengatakan ke depan pangan di Kota Makassar hanya dipasok oleh kabupaten terdekat yakni Maros, Gowa dan Takalar.

Selain cepat, ongkos pengiriman kata Amran juga lebih murah. Hal ini membuat Arman yakin bahwa Sulawesi Selatan juga bisa mendukung Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Menurutnya, saat ini Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat untuk mewujudkan target tersebut.

“Mimpi kita, Indonesia jadi lumbung pangan dunia. Dari 11 komoditas strategis, terdapat empat komoditas yaitu beras, jagung, cabai, dan bawang yang berhasil diselesaikan permasalahannya, dan bahkan bisa diekspor”, harapnya.

Komoditas jagung, salah satu contohnya, dulu Indonesia impor 3,6 juta ton jagung yang nilainya mencapai Rp 10 triliun. Saat ini, Indonesia tidak mengimpor jagung, justru malah mengekspor.

Hal ini diakui oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO yang berada di bawah naungan PBB.

Terakhir, ia menghimbau para Rektor Indonesia untuk lebih jauh memberikan perhatian lebih terhadap pangan Indonesia dengan memberikan kontribusinya dalam program kerja FRI.

“Bersama, kita bisa membangun Pertanian Indonesia, jika para Pendidik negara ini juga bekerja sama dengan pemerintah untuk kualitas pangan yang lebih baik!,”ujarnya.

 

Acara ditutup dengan penyerahan buku dan plakat dari Menteri Pertanian kepada Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. (**)