Ketersediaan Bahan Baku Penghambat Pertumbuhan Industri Manufaktur di Sulsel

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kontribusi industri manufaktur kepada pertumbuhan ekonomi Sulsel cenderung melamban dari 68% (yoy) di tahun 2015 menjadi hanya 5,03% di tahun 2017.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel, H Ahmadi Akil SE MM, menuturkan,
Pertumbuhan industri manufaktur sangat bergantung dengan ketersediaan bahan baku.

Advertisment

Hal ini pula kata Akil yang kemungkinan menjadi salah satu penyebab kontribusi industri manufaktur terhadap ekonomi Sulsel juga menurun dari 13,9% pada 2015 menjadi 13,7% pada 2017.

” Faktor penghambat pertama adalah kesiapan dan ketersediaan bahan baku berkurang terutama karena adanya kebijakan nasional pelarangan menebang pohon sembarangan ,” ujar Akil disela-sela Focus Group Discussion (FGD) Bank Mandiri bekerja sama dengan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel di Cafe The Boss Jl Botolempangan, Makassar, Kamis (15/3).

Seharusnya kata Akil, aturan larangan penebangan pohon besar harus dibarengi memperdayakan hutan rakyat.

Akil menegaskan, pemerintah sangat komitmen untuk memajukan industri manufaktur di Sulsel. Sebab, industri manufaktur memiliki peranan penting dalam perekonomian Sulse.

Sehingga tahun ini upaya pemerintah membuat kebijakan nasional berdayakan kayu rakyat dengan menamam pohon kayu jati menjadi solusi untuk menggairahkan kembali industri manufaktur.

” Faktor kedua industri manufaktur kita belum bisa bersaing dengan luar negeri. Karena terkadang kita belum pakai standar produk sesuai yang ditetapkan oleh pusat,”sebut Akil.

Sementara itu, untuk sektor industri sangat berkontribusi besar. Sebagian besar masih bergantung pada sektor pertanian.

Namun beberapa permasalahan sektor industri yang ada di Sulsel, yakni diantaranya pengembangan sektor hulu belum optimal untuk bersinergi dengan sektor industri. Hal ini mengakibatkan kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih rendah.

Bukan hanya itu, persoalan Sumberdaya Manusia (SDM) pun menjadi kendala. Pasalnya, jumlah SDM di sektor hulu dan sektor industri masih kurang, serta infrastruktur yang belum memadai mendukung pengembangan industri lebih lanjut.

Hadir dalam Focus Group Discussion Ketua Kadin Provinsi Sulsel Ir HM Zulkarnain Arief MSi MSC, Kabid Perekonomian Bappeda Provinsi Sulsel DR Ir Ardin Tjahjo, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel, H Ahmadi Akil SE MM, Ekonom Unhas DR Agussalim SE MS dan
Moderator Dendi Ramdani Office of Chief Economist Bank Mandiri. (**)