OJK: Kesadaran Berasuransi di Sulsel Baru 15%

(Kiri-kanan) Redaktur Sindo Makassar, Suwarny Dammar, Yenpi perwakilan dari perusahan Securitas, Kepala OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, Zulmi, Vice President Bank Mandiri, R Putut Putranto dan Andi Anwar Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Sulsel (AAJI) berbincang-bincang disela-sela Journalist Update OJK di Cafe Grind n Pool Jalan Mappanyuki.

(Kiri-kanan) Redaktur Sindo Makassar, Suwarny Dammar, Yenpi perwakilan dari perusahan Securitas, Kepala OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, Zulmi, Vice President Bank Mandiri, R Putut Putranto dan Andi Anwar Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Sulsel (AAJI) berbincang-bincang disela-sela Journalist Update OJK di Cafe Grind n Pool Jalan Mappanyuki.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 (Sulampua) menyebut, tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat Sulsel terhadap produk asuransi masih minim bahkan hanya 15-16%.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulampua, Zulmi mengungkapkan, literasi keuangan utamanya produk Industri Keuangan Non Bank (IKNB) seperti asuransi masih memprihatinkan.

Advertisment

Oleh karena itu, hal ini menjadi cambuk untuk terus meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat terhadap produk asuransi dengan gencar mengedukasi dan mensosialisasikan di setiap kegiatan dengan menghadirkan pihak yang berkompeten.

” Untuk meningkatkan penertrasi asuransi diperlukan sosialisasi dan edukasi,”kata Zulmi.

Zulmi beranggapan, rendahnya masyarakat yang paham manfaat asuransi karena selama ini banyak yang beranggapan jika asuransi mahal, dan dengan membeli asuransi berarti uang mereka hilang.

” Lebih penting lagi bagaimana menyadarkan masyarakat kalau beli asuransi itu bukan berarti uang hilang, beli premi asuransi adalah mengalihkan sebagian resiko yang akan muncul,”ujar Zulmi ditemui disela-sela Journalist Update OJK di Green Cafe n Pool di Jalan Mappanyuki, Rabu 4 April 2018.

Padahal, lanjutnya, asuransi jiwa selain menjadi bantuan finansial saat mengalami sakit atau terkena bencana, juga menjadi salah satu instrumen investasi jangka panjang. Pembayaran premi asuransi menurutnya bukanlah sebuah pengeluaran, tapi justru itu merupakan sebuah investasi.

” Pemahaman tentang hal inilah yang belum banyak dimengerti oleh sebagian besar masyarakat, oleh karena itu kita memerlukan langkah-langkah untuk memberikan edukasi melalui literasi keuangan dan asuransi,” katanya.

Hal senada dikatakan, Andi Anwar Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Sulsel (AAJI), dibutuhkan strategi khusus untuk mengenalkan asuransi ke masyarakat. Pertama, edukasi, kedua menambah agen asuransi dan sosialisasi sampai ke wilayah kecamatan sehingga profesi agen menjadi profesi yang diminati masyarakat.

” Kita harus perbaiki demand dari masyarakat, dengan cara sosialisasi dan edukasi,” jelasnya.

Sejauh ini lanjut Anwar, sosialisasi asuransi sudah ada dari setiap perusahaan baik sifatnya edukasi langsung ke nasabah maupun sifatnya edukasi ke calon-calon pencari tenaga kerja melalui agen asuransi.

Namun kendati persentase masyarakat yang memiliki asuransi masih minim, jika dilihat dari pertumbuhan industri asuransi, kinerja industri asuransi jiwa secara nasional meningkat 21,7 persen atau dari Rp208,5 Triliun menjadi Rp254,2 Triliun (yoy).

” Ini menunjukkan perusahaan asuransi tumbuh 2 digit. Sangat terkolerasi dengan klaim yang dibayar dimana total klaim 2017 tumbuh 26,21 persen,”sebut Anwar.

” Kami belum bisa publish data Sulsel, tapi Sulsel cukup berkontribusi untuk wilayah KTI, karena pulau Jawa masih terbesar,” tutup Anwar.(**)