Berkah Segelas Es Dawet Segar di Tengah Terik Matahari

Es Dawet misalnya, salah satu minuman khas dari Kota Solo ini diserbu pengunjung, seperti yang terlihat di Jalan Urip Sumoharjo Makassar.

Es Dawet misalnya, salah satu minuman khas dari Kota Solo ini diserbu pengunjung, seperti yang terlihat di Jalan Urip Sumoharjo Makassar.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Musim kemarau yang tengah melanda Kota Makassar membawa keberuntungan tersendiri bagi pelaku usaha minuman dingin.

Es Dawet misalnya, salah satu minuman khas dari Kota Solo ini diserbu pengunjung, seperti yang terlihat di Jalan Urip Sumoharjo Makassar.

Advertisment

Mas Wawan sang pemilik. Masih muda, usianya baru 24 tahun. Laki-laki yang bermukim di Kampung Camapagayya Jalan Haji Kalla tersebut mengaku sehari-hari berjualan es dawet di depan markas Kodam XIV/Hasanuddin Peralatan mulai pukul 10.00 WIT pagi hingga 17.30 WIT.

“Di sini ramai. Apalagi kalau hari Senin sampai Jumat. Ini sih sekarang sepi, kan akhir pekan,”ujar Bapak 2 anak tersebut.

Suasana tempat menjual Mas Wawan cukup strategis dan nyaman. Dekat dari kantor Gubernur Sulawesi Selatan di bawah pohon trambesi yang rindang.

Terik matahari yang menyegat langsung sirna dengan segelas es dawet yang segar dan manis buatan Mas Wawan.

Harganya cukup terjangkau, hanya 5 ribu per gelasnya.

Meski mengaku sepi pelanggan di akhir pekan, Mas Wawan tidak pernah berhenti melayani pelanggan yang datang. Ada yang minum di tempat, ada pula yang membungkus hingga beberapa.

Nasib tak selalu mujur. Kadang pula Wawan ditegur karena berjualan di bahu jalan.

“Kadang ditegur satpol PP. Apalagi kalau mau penilaian Adipura dan Wali Kota mau lewat.” ujar lelaki kelahiran Solo ini.

Salah satu pengunjung, Muhammad Faizi Putra mengaku sering minum es dawet buatan Wawan. Menurutnya, dawet buatan Wawan pas di tenggorokannya.

“Yah, rasa dawet itukan beda-beda. Ada yang bikin enek, tapi dawet yang ini segar. Apalagi panas-panas begini. Saya sampai tiga gelas.” ujar siswa SMAN 16 Makassar tersebut sambil tertawa.

Ada beberapa pelanggan tetap Wawan. Biasanya orang-oramg sekitar, serta para pegawai yang kerja di Kantor Gubernur.

“Ada juga mantan pelayaran, dia tiap hari. Biasa sampai 4 gelas,” tambah Wawan.

Meski ada beberapa pedagang serupa di sekitar tempatnya berjualan, tapi itu tidak memunculkan rasa iri atau cemburu.

“Yah, banyak yang jualan sih. Kan rejeki kita masing-maaing,”tambahnya.

Jika sore hari menjelang, Wawan akan bergeser ke arah timur. Ia sadar, bahwa gerobaknya akan mengganggu arus lalu lintas yang senantiasa padat di sore hari.

Es dawet buatan Mas Wawan berwarna hijau, terbuat dari tepung beras. Berbeda dengan dawet kebanyakan yang berwarna hitam yang terbuat dari sagu.

Dari hasil berjualan dawet, Wawan bisa meraup untung dalam sehari tiga ratus sampai empat ratus ribu rupiah.

“Itu tergantung sih, kalau harga gula tidak mahal,” tutupnya. (**)