Kemenkeu: Baru Satu Perusahaan Teregistrasi Garap Pasar Keuangan Syariah

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo membuka konferensi keuangan syariah ke-3 atau The 3rd Annual Islamic Finance Conference di Makassar, di Lotus Ballroom Four Points Hotel Makassar, July 4-5 2018.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo membuka konferensi keuangan syariah ke-3 atau The 3rd Annual Islamic Finance Conference di Makassar, di Lotus Ballroom Four Points Hotel Makassar, July 4-5 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo membuka konferensi keuangan syariah ke-3 atau The 3rd Annual Islamic Finance Conference di Makassar, di Lotus Ballroom Four Points Hotel Makassar, July 4-5 2018.

Konferensi keuangan syariah kali ini diperuntukkan untuk mendorong keterlibatan ekonomi digital pada industri keuangan syariah dan sinergi dengan inovasi teknologi digital.

Advertisment

” Industri keuangan digital tumbuh cukup signifikan di Indonesia, namun baru satu perusahaan teregistrasi yang menggarap pasar keuangan syariah,”kata Mardiasmo.

Mardiasmo mengungkapkan, industri keuangan syariah bisa memanfaatkan ekonomi digital melalui kehadiran teknologi finansial (fintech) untuk mempercepat target inklusi keuangan dan mendorong inovasi dalam bidang keuangan.

Perkembangan teknologi lanjutnya, sangat bermanfaat untuk meraih pangsa yang lebih besar dan tingkat ketercakupan yang lebih luas, karena tidak hanya meningkatkan peluang terhadap akses pembiayaan, namun juga meningkatkan literasi keuangan syariah.

” Pemenuhan akses ke berbagai institusi finansial termasuk pemanfaatan Fintech sangat krusial, karena juga bisa mengurangi angka kemiskinan dan menyediakan lapangan kerja,” lanjut Mardiasmo.

Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini 4-5 Juli 2018 dihadiri oleh para pemangku kepentingan dalam industri keuangan syariah dan mengusung tema Enhancing The Role of Islamic Finance within Digital Economy Era: Opportunities and Challenges.

Konferensi ini dilaksanakan atas kerja sama antara Kemenkeu, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Komite Nasional Keungan Syariah, Grup IDB, Bank Dunia dan Universitas Hasanuddin. (**)