Gurihnya Bawang Goreng Enrekang di Pekan Ekonomi Syariah 2018

Ibu-ibu di Desa Bubunlamba, Desa Anggareja, Kabupaten Enrekang menunjukkan produk bawang goreng Enrekang di Pekan Ekonomi Syariah 2018 di Mal Ratu Indah. (Foto:djournalist)

Ibu-ibu di Desa Bubunlamba, Desa Anggareja, Kabupaten Enrekang menunjukkan produk bawang goreng Enrekang di Pekan Ekonomi Syariah 2018 di Mal Ratu Indah. (Foto:djournalist)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Siapa bilang ibu rumah tangga tidak produktif dan hanya sibuk mengurusi rumah dan anak-anaknya.

Buktinya, ibu-ibu di Desa Bubunlamba, Desa Anggareja, Kabupaten Enrekang bisa menopang ekonomi keluarganya.

Advertisment

Kaum perempuan di desa yang baru beberapa bulan lalu menjadi tempat pelaksanaan Festival Bawang Merah yang diadakan Kementerian Pertanian RI, berkreasi mengolah hasil bawang menjadi produk yang bernilai jual lebih.

Ismawati dan istri-istri petani bawang lainnya kemudian membentuk Kelompok Wanita Tani Pengolah Bawang Goreng. Mereka pun mengolah hasil pertanian unggulan desa mereka menjadi produk bawang goreng.

“Kami berinisitaif membuat usaha bawang goreng ini untuk meningkatkan harga jual bawang yang kadang anjlok serta tidak lama untuk disimpan,” ujar Ketua kelompok wanita Tani, Ismawati saat ditemui di stand pameran Pekan Ekonomi Syariah 2018 yang digelar Bank Indonesia (BI) Sulsel sejak Jumat 14 hingga 16 September 2018 di Mall Ratu Indah Makassar.

Usaha yang sudah berjalan 6 bulan ini masih dikelola secara sederhana, lalu ada support dari BI Sulsel yang memberikan bantuan manajemen pemasaran serta membuatkan kemasan yang menarik serta sesuai standar packaging produk makanan dan tentunya menarik secara visual bagi konsumen.

Menurut Isma, Kelompok wanita Tani yang dikoordinirnya ini setiap harinya mampu memproduksi olahan bawang goreng 25-30 Kilo bawang merah dan dibuat oleh 8 orang ibu-ibu.

“Kami menjualnya per pack itu Rp20 ribu rupiah, cuma dijual lewat sosmed dan diikutkan Pameran-pameran seperti di acara BI ini,” beber Ismawati menjelaskan metode pemasaran produk bawang goreng yang ternyata cukup gurih.

Disetiap pameran, mereka menjual dan memperkenalkan produk original yang bisa bertahan sampai lebih 6 bulan tanpa bahan pengawet apapun.

” Tapi kita juga melayani permintaan rasa yang lain rasa manis dan asin,” jelas Isma sedikit berpromosi.

Kedepannya, kelompok wanita tani ini berharap akan mengembangkan lebih besar produknya, apalagi bila mereka sudah mengantongi sertifikasi halal.

“Tim sertifikasi halal MUI sudah datang ke stand kami dan rencananya tim akan datang langsung ke tempat kami di Enrekang untuk mensurvei dan memberikan serifikasi halal,” jelas Isma sambil menambahkan, bahwa mereka kembali akan ikut acara serupa yang dilakukan BI Sulsel ini di Balikpapan bulan Oktober mendatang. (***)