Kreatif, Santri PP Shohwatul Is’ad Pangkep Olah Kulit Jeruk Jadi Panganan

Fatuhraman dan Muh Adnan Awalauddin menunjukkan olahan kulit jeruk di Pekan Ekonomi Syariah 2018 yang diselenggarakan BI Sulsel di Mal Ratu Indah 14-16 September. (Foto:djournalist).

Fatuhraman dan Muh Adnan Awalauddin menunjukkan olahan kulit jeruk di Pekan Ekonomi Syariah 2018 yang diselenggarakan BI Sulsel di Mal Ratu Indah 14-16 September. (Foto:djournalist).

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Membangun ekonomi ummat berbasis pesantren punya masa depan cerah, buktinya PP Shohwatul is’ad memproduksi berbagai penganan yang menakjubkannya dibuat dari olahan kulit jeruk.

Stand yang dijaga dua santri, Fatuhraman dan Muh Adnan Awalauddin di Pekan Ekonomi Syariah 2018 yang diselenggarakan BI Sulsel di Mal Ratu Indah 14-16 September, cukup menarik perhatian.

Advertisment

Salah satu yang menarik perhatian pengunjung karena penasaran bagaimana kulit jeruk Bali, yang biasanya dibuang justru bisa diolah jadi makanan.

Dua santri dari PP yang berlokasi di
Jalan Poros Padanglampe KM 3 ini bercerita bagaimana berinovasi mengubah jeruk Bali jadi makanan ringan seperti dodol, manisan, saos, permen, minuman kemasan dan mie instan.

Bahan dasarnya tak perlu ditanyakan lagi. Pangkep memang termasuk wilayah dengan produksi jeruk bali melimpah.

Alasan inovasi ini sederhana. Bahan baku mudah ditemukan dan buah yang mudah rusak dan tidak tahan lama.

” Inspirasi kami karena bahan bakunya mudah ditemukan, jeruk bali sudah dikenal dan jadi oleh-oleh khas Pangkep,”ujar Fathurrahman.

Sayangnya, produksinya masih terbatas karena pemasarannya saat ini masih di lingkungan pesantren dan sekitarnya.

” Pemasaran masih di Pangkep, pesantren dan pameran wirausaha, rencana baru akan dijadikan oleh-oleh khas Pangkep di kantor Bupati,” ujar Faturahman.

Beruntung bahwa ide kreatif santri ini dideteksi BI Sulsel sebagai bagian dari komitmen mendorong ekonomi syariah dengan menjadikan pesantren sebagai basis ekonomi ummat. Bentuk dukungan BI menurut pengakuan Muh Adnan Awaluddin dengan memberikan mesin produksi.

” Dengan sokongan BI ini kedepan kami berharap, produksi bisa berkembang dan punya pasar yang lebih besar,” harap Muh Adnan.

Hasil kreatifitas santri ini atas olahan kulit jeruk tersebut sungguh mengagumkan.

Rasa-rasanya harga yang dibanderol masih murah bila melihat bagaimana olahan kulit jeruk itu menjadi penganan.

Misalnya saja mie instan hanya Rp20 ribu, sementara untuk permen, saos dan dodol seharga Rp15 ribu dan jus jeruk hanya Rp5 ribu.

Penasaran? Masih ada kesempatan mengunjungi stand pesantren Shohwatul Is’ad sebelum penutupan minggu malam 16 September 2018.(**)