Ini Tantangan Perekonomian Sulsel di Tahun 2019

Kepala Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso (kanan).

Kepala Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso (kanan).

MAKASSAR, DJOURNALIST.com –
Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan memprediksi pertumbuhan ekonomi di Sulsel tahun 2019 diperkirakan berada dalam kisaran 7,2-7,6% (yoy), dengan berbagai tantangan yang perlu menjadi perhatian.

Pertumbuhan tersebut, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 5,0%-5,4% di tahun 2019.

Advertisment

Demikian dikatakan Kepala Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Hotel Claro, Selasa 4 Desember 2018.

Beberapa hal yang diperkirakan dapat menjadi pendorong pertumbuhan tersebut kata Bambang, antara lain, berlanjutnya stimulus fiskal pemerintah untuk terus meningkatkan infrastruktur di luar daerah.

Peningkatan infrastruktur di luar daerah tersebut akan memberikan dampak multiplier sehingga pertumbuhan menjadi lebih inklusif sekaligus memberikan akses pariwisata yang lebih baik.

Selain itu, perang dagang antara Amerika dan Tiongkok berkutat pada barang-barang teknologi. Adapun komoditas ekspor utama Sulsel merupakan produk makanan dan minuman sehingga relatif tidak tergantikan.

” Perbaikan kondisi fundamental beberapa komoditas unggulan seperti kakao, kopi, rumput laut, ikan-ikanan, dan komoditas yang sesuai selera pasar global akan mampu mendorong kinerja ekspor yang diperkirakan tetap mengalami surplus neraca perdagangan,”sebut Bambang.

Selanjutnya kata Bambang, pelaksanaan pemilu serentak juga akan mendorong konsumsi rumah tangga yang diimbangi dengan tetap kuatnya investasi swasta selama pemilu tersebut berjalan dengan aman.

Sementara itu, dari sisi Lapangan Usaha, infrastruktur bendungan untuk pertanian yang akan beroperasi di tahun 2019 diperkirakan dapat meningkatkan produksi tanaman bahan makanan.

Masih positifnya pertumbuhan harga komoditas khususnya nikel juga akan memberikan dampak positif pada lapangan usaha pertambangan.

” Kami memperkirakan lapangan usaha industri masih menghadapi tantangan khususnya industri pengolahan kakao dan industri bahan galian bukan logam, karena kurangnya bahan baku dan adanya persaingan usaha,”pungkasnya.

Namun demikian pertumbuhan industri
diperkirakan lebih baik dibandingkan realisasi tahun 2018 dengan dorongan pengembangan agro industri oleh pemerintah daerah.

Berlanjutnya investasi infrastruktur pemerintah juga akan mendorong lapangan usaha konstruksi serta adanya komitmen yang kuat, dalam mendorong pariwisata akan meningkatkan pertumbuhan perdagangan serta akomodasi dan makan minum

Namun demikian, ke depan ekonomi Sulsel masih menghadapi tantangan antara lain, sasaran inflasi yang tetap rendah disertai potensi gangguan cuaca, perdagangan luar negeri yang cenderung menurun, dengan tantangan eksternal yang meningkat antara lain dinamika ekonomi global yang berpotensi memberikan tekanan kepada harga komoditi dan masih tingginya harga minyak dunia.

Adapun inflasi Sulsel tahun 2019 diperkirakan akan berada pada kisaran target 3,5±1%. Hal tersebut terutama ditopang koordinasi dan
sinergi yang kuat, serta pasokan bahan pangan yang terjaga, sehingga komoditas kelompok inti stabil di tengah potensi tekanan administered
price.

Adapun faktor-faktor yang mendukung terkendalinya inflasi adalah lancarnya distribusi pangan, serta minimnya kebijakan dari pemerintah yang meningkatkan tekanan inflasi.

Selain itu, hal tersebut juga didukung
oleh kerjasama TPID dan seluruh stakeholders dalam upaya mengendalikan harga yang berjalan secara optimal.

Ke depan sinergi dan koordinasi yang lebih kuat melalui forum TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk mewujudkan 4K yang lebih baik tentunya sangat diperlukan.

” Dalam jangka menengah, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulsel akan lebih tinggi lagi yaitu mencapai kisaran 7,8- 8,2% pada tahun 2023 diikuti dengan pertumbuhan Kabupaten/Kota.,”harapnya.(**)