Dampak Banjir di Sulsel, Kadin Sulsel: Pertumbuhan Ekonomi Akan Mengalami Penurunan

Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sulsel Rusdi Hidayat. (Foto:ist)

Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sulsel Rusdi Hidayat. (Foto:ist)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Tujuh daerah di Sulawesi Selatan mengalami dampak banjir bandang akibat curah hujan yang tinggi. Tujuh daerah yang terkena dampak yakni Kabupaten Gowa, Maros, Pangkep, Barru, Takalar, Jeneponto, dan Kota Makassar.

Data Pemerintah Provinsi Sulsel, pada Rabu sore 23 Januari 2019, tercatat ada 9 orang meninggal dunia dan 7 orang dinyatakan hilang. Sedangkan korban banjir yang telah dievakuasi mencapai 3.321 jiwa, seorang diantaranya sedang sakit.

Advertisment

Melihat musibah bajir yang melanda beberapa daerah di Sulsel, Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sulsel Rusdi Hidayat mengatakan, efek bajir yang terjadi ini pasti akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi di Sulsel khususnya di daerah-daerah yang mengalami bencana.

Bencana alam, kata Rusdi berefek terhadap produktivitas ekonomi dan peredaran uang, juga konsumsi rumah tangga kemungkinan akan ikut melambat.

“Dari sisi produktivitas khususnya yang terkait sumber daya manusia juga pasti akan terpengaruhi oleh bencana banjir tersebut khususnya bila dikaitkan dengan masalah kesehatan. Daya tahan tubuh sangat dibutuhkan dalam menghadapi persoalan persoalan yang banyak menimbulkan penyakit seperti bencana banjir ini,” kata Rusdi, Kamis 24 Januari 2019m

Pria kelahiran Barru tersebut menambahkan, jual beli masyarakat juga pasti akan terganggu, karena tempat-tempat belanja masyarakat seperti warung, toko, dan pasar ikut terendam.

Akibatnya, perdagangan dan jual-beli akan lumpuh secara otomatis untuk sementara waktu hingga kondisi kembali stabil.

“Jual beli masyarakat pasti akan terganggu, karena tempat-tempat masyarakat berbelanja seperti warung toko dan pasar ikut tergenang. Belum lagi sebagian daripada pemilik los los di pasar menjadi korban banjir. Sehingga mereka tidak akan sempat untuk memikirkan membuka lapaknya,” ujar pria yang juga calon anggota legislatif Dapil Sulsel 6 nomor urut 1 dari PKS itu.

Menurut Rusdi dari sisi produksi barang dan jasa juga akan ikut terganggu khususnya yang terkait produksi barang karena ada dua faktor penentu yang ikut terimbas khususnya yang terkait sumber daya manusia, yang pertama masalah waktu dan kesempatan.

“Mana sempat para buruh dan teknisi memikirkan produksi barang sedangkan rumah mereka tergenang air. Yang kedua masalah kesehatan. Jelas korban banjir akan mengalami penurunan kondisi kesehatan baik secara fisik maupun psikologis nya. Sehingga susah bagi mereka untuk maksimal dalam proses produksi barang maupun jasa,” jelasnya.

Selain produksi, menurutnya yang ikut terganggu juga adalah masalah distribusi barang. Daerah yang terkena banjir sangat rawan menjadi daerah isolasi sehingga tidak akan ada mobil mobil kontainer dari produsen yang akan menyetor barang ke pusat-pusat perbelanjaan termasuk di pasar.

Pengaruh lain dari pada banjir terhadap ekonomi kata Rusdi, diantaranya adalah kerugian yang dialami oleh masyarakat. Kerugian materi sudah pasti ada, para pedagang tidak sempat lagi berjualan sehingga omsetnya akan menurun secara drastis. Belum lagi jika stok barang ikut terendam air maka akan dinyatakan rusak. Sehingga tidak mungkin lagi untuk dijual.

“Para petani dan petambak juga pasti akan terkena dampaknya. Angka pengangguran akan semakin naik karena banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Ini semua adalah hal-hal yang harus kita antisipasi secepatnya agar bencana alam seperti ini tidak meninggalkan duka yang berlarut-larut,” lanjut pria yang juga Presiden GENPRO Area Makassar itu. (***)