Warung Kelontongan Warga Makassar Bangkit Karena PNM Mekaar, Begini Ceritanya

Anna saat menunjukkan warung klontongan miliknya yang dikembangkan berkat bantuan pembiayaan PNM Mekaar. (Foto:djournalist)

Anna saat menunjukkan warung klontongan miliknya yang dikembangkan berkat bantuan pembiayaan PNM Mekaar. (Foto:djournalist)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Selama pandemi sektor ekonomi adalah sektor yang paling terpukul. Baik pelaku usaha kelas eksportir kaya terlebih usaha kecil rakyat. Tidak terkecuali buat seorang ibu rumah tangga bernama Anna (35 tahun), warga kota Makassar.

Ia melanjutkan usaha kelontongan kecil dari almarhum bapaknya sejak tahun 2013. Saat Pandemi Covid-19 usaha kelontongan yang dikelolanya di rumahnya di sebuah gang kecil jalan Muhammad Yamin Baru Lr 24, kelurahan Bara-baraya Timur, kecamatan Makassar, butuh suntikan dana.

Advertisment

Tahun 2020 Anna sangat membutuhkan tambahan modal Rp2,5 juta. Modal itu untuk mencegah warung yang menjual beberapa barang eceran kebutuhan rumah tangga itu yang terancam tutup akibat pembatasan selama gelombang Covid-19.

Anna pun mencoba mencari cara peroleh dana tersebut. Lewat seorang temannya, Anna mengenal dan mengetahui program Mekaar dari PNM melalui temannya. Program bantuan modal itu berhasil menyelamatkan usaha kelontongannya.

“Jadi waktu itu ada tawaran dari PNM, dan saya juga menawarkan diri untuk ikut. Akhirnya saya gabung program Mekaar dan jadi Ketua Kelompok Mekaar di sini. Sekarang anggota Kelompok Mekaar saya ada 19 orang,” ujar Anna, saat ditemui yang sedang menunggui warungnya sambil mengasuh dua anaknya yang masih kecil, Senin 31 Januarii 2022.

Apa yang dialami Anna dan tetangganya itu dialami banyak pelaku usaha ultra mikro (UMi) kebutuhan terhadap bantuan permodalan sendiri sebenarnya sudah terjawab BANYAK pelaku usaha ultra mikro (UMi) melalui keberadaan program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) yang dikeluarkan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Program Mekaar, memberikan pelaku usaha ultra mikro pembiayaan dengan bunga terjangkau mulai dari nilai jutaan rupiah dan pengurusan yang sangat mudah dan bisa diakses masyarakat ekonomi rendah.

Hal ini terjadi pada Anna setelah mengakses bantuan permodalan dari PT. PNM program Mekaar, ia merasakan manfaatnya sebagai warga yang minim pengetahuan soal permodalan usaha dan tidak punya akses ke lembaga keuangan yang lebih tinggi. Bayangan urusan yang berbelit-belit dan jaminan yang tidak sedikit serta bunga yang tinggi menjadi bayangan yang menyulitkan bagi orang-orang seperti Anna. Karena itu program Mekaar dirasakan Anna dan anggotanya sebagai solusi atas kebutuhan modal usaha.

Dia bercerita, ketika pertama kali terlibat program Mekaar, Anna mengambil fasilitas pembiayaan senilai Rp2 juta dengan tenor 50 minggu. Di akhir periode, total uang yang harus dia kembalikan hanya sebesar Rp2,5 juta. Pembayaran pinjaman itu juga bisa dia lakukan dengan cara menyicil tiap minggu sebesar Rp50 ribu/minggu.

Bantuan yang didapatkannya pun berhasil membuat warung sederhananya itu kini perlahan-lahan berkembang.

Saat ini, melalui usaha warung kelontongan Anna  bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp2,5 juta tiap bulan. Dana tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan sebagiannya ditabung.

“Alhamdulillah, berkat pembiayaan UMi, saya bisa memperluas usaha. Usaha yang semula berhenti karena pandemi, kini bisa bangkit dan berjalan lagi,” jelas Anna.

Rupanya program Mekaar tersebut bukan sekadar memberikan modal tapi petugas dari Mekaar rutin mengedukasi dan memberikan pendampingan kepada kelompok mereka. Mulai dari cara mengelola dana, dan mengembangkan usaha.

Anna hanyalah satu dari sekian banyak pelaku usaha ultra mikro di Kota Makassar yang menerima manfaat pembiayaan UMi selama pandemi Covid-19. Bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi dirasakan Anna dan anggotanya dari program tersebut.

Mohd. Zeki Arifudin, Direktur Pengelolaan Aset Piutang Badan Layanan Umum Pusat Investasi Pemerintah (BLU-PIP) mengatakan, berdasarkan data terdapat 98.792 debitur pembiayaan UMI pada tahun 2020 dan 67.008 pada tahun 2021 dengan total keseluruhan penyaluran Rp587.035.169.505 di Sulawesi Selatan.

Proses inipun memudahkan bagi masyarakat kelas bawah seperti Anna. Proses pengajuan k  pembiayaan dari UMi PIP kata Zeki sangatlah mudah serta pencairannya sangat cepat. Bahkan pinjaman dari BLU PIP tidak membutuhkan jaminan sehingga memudahkan pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya.

Sejak digulirkan tahun 2017 hingga 30 September 2021, pembiayaan UMi telah menjangkau 4.924.063 pelaku usaha ultra mikro di 502 kabupaten/ kota di Indonesia. Total penyaluran pembiayaan UMi sebesar Rp 16,37 triliun yang disalurkan PIP melalui 51 LKBB.

” Dari jumlah penerima pembiayaan UMi, 95 persen adalah perempuan dengan besar plafon mayoritas atau 91 persen kurang dari Rp 5 juta, “ujar Zaki.

Sekedar diketahui, pembiayaan UMi merupakan program tahap lanjutan dari program bantuan sosial menjadi kemandirian usaha yang menyasar usaha ultra mikro yang berada di lapisan terbawah, yang belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pemerintah menunjuk Badan Layanan Umum Pusat Investasi Pemerintah (BLU-PIP) sebagai coordinated fund pembiayaan UMi. Pembiayaan UMi disalurkan melalui LKBB, diantaranya PT Pegadaian (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan PT Bahana Artha Ventura.

Pembiayaan UMi sangat penting karena jumlah usaha ultra mikro dan usaha mikro sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, jumlah usaha ultra mikro mencapai 44.000.000 unit dan usaha mikro sebanyak 18.922.617 unit.

Sementara Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut,  berkat APBN yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan ultra mikro atau UMi, 5,39 juta pelaku UMKM dapat merasakan manfaat nyatanya.

Meskipun banyak pelaku UMKM saat ini masih mengalami tekanan akibat dampak dari pandemi covid-19.

Menurut Sri Mulyani manfaat UMi dapat dilihat dari salah satu pelaku usaha UMKM yang sudah merasakannya.(#)